Sabtu, 03 Maret 2018

warsawa :)


24 Juni 2017

Pagi ini kami telah sampai di kota yang berbeda, yaa kami sampai di warsawa, ibukota Polandia. Kedatangan kami di jemput oleh salah satu kakak PPI yang sejak lama telah kami kontak dan ia yang banyak membantu kami mulai dari sebelum keberangkatan sampai saat2 kami selama berada dieropa dan pulang lagi ke Indonesia. Bentukan kami kucel sekali saat itu, jadi kami langsung dibawa ke salah satu kediaman kakak PPI dimana disana kami numpang menginap sehari. Kami diantar dan lalu bersiap2, mandi, membereskan pakaian kami serta memberikan titipan2 dari Indonesia untuk kakak2 PPI. Tidak lama setelah itu, kami ditemani anak PPI lainnya lagi untuk berjalan di old town warsawa dan berkeliling sekitar situ, berjalan ke pistula river, mencari oleh2 untuk balik ke Indonesia, dan berbuka puasa Bersama anak2 PPI lainnya yang ada di Polandia. Bentuk kami masih beres saat itu, masih terurus hehe.

Kami mulai perjalanan it uke old town. Baru itu rasanya aku merasakan jalan2 sebenarnya, jalan2 tanpa beban, tanpa fikiran lagi yang menghantui tentang nasib perlombaan kami. Kami mulai menyusuri jalanan menuju old town, berfoto2, menikmati keindahan dan keromantisan bangunan2 disana, mengikuti festival yang kebetulan saat itu ada di kota tersebut dimana orang bernyanyi2, bermain music, bernari, berbagi apel, ya pokoknya seru :”). Eropa itu indah, waktu yang kami rasakan memang sangat singkat sehingga itu sangat kurang rasanya menikmati keindahan sudut2 kota eropa. Di old town ini kami juga sempat diteriakkan oleh salah satu orang disana, “boom.. boom..”. itulah kerasisan yang kami rasakan lagi, karena hanya kami yang saat itu berjilbab dan besar. Kami juga sempat merasakan kesulitan untuk sholat disana, hingga akhirnya kami memilih masuk ke dalam mall dan mencari kamar pass untuk kami sholat. Aku sengaja masuk berdua dengan ida dengan membawa pakaian yang seolah akan kami coba, kemudian sholat bergantian dengan salah satu berusaha menutupi pintu agar tidak ketahuan oleh penjaga disana kalo kami sedang sholat. Setelah itu kami diajak untuk buka Bersama PPI lainnya. Sebelum sampai di tempat, kami melewati icon kota Polandia tersebut, tapi karena waktu sudah mepet maghrib kami hanya sempat singgah sebentar untuk berfoto2 kemudian melanjutkan perjanan sesuai arahan dari PPI untuk lokasi tempat kami buka Bersama. Sesampainya disana, kami bertemu orang2 yang menolong kami selama ini, orang2 yang menitipkan barang kepada kami, ketua PPI, dan dari pertemuan ini juga kami mendapatkan banyak pengalaman dan motivasi dari kakak2nya tentang bagaimana cara mereka hingga sampai disini untuk berkuliah. Macam2, mulai dari kuliah dengan beasiswa, baik dari pemerintah ataupun negara itu sendiri, ada juga yang sekolah dengan biaya sendiri, ada yang kegiatan exchange, kami banyak betemu orang2 hebat baru ditempat itu. Disana juga kami membereskan semua urusan dan tanggungan kami dengan kakak2 PPI nya, kami juga diajarkan tentang cara2 perjalanan kami untuk keliling eropa setelah ini, kami dibantu untuk membeli tiket, dan diberi rekomendasi alur perjalanan kami setelah ini. Setelah pulang dari buka Bersama itu, kami pulang dengan kakak PPI lainnya dan kemudian beristirahat.

Minggu, 25 Februari 2018

Our Competition


Aku sudah janji untuk menjemput kedua temanku di terminal bus di jam kedatangan yang sama denganku sebelumnya, yaitu sekitar jam 2 dini hari. Tapi sayangnya malam itu aku sangat kelelahan, mungkin efek jetlag beberapa hari di pesawat dengan jam yang entah ga ku ngerti hehe. Akhirnya aku baru terbangun sekitar jam 4 pagi hari, dan saat itu sudah terang. Aku kaget, terus ku buka HP ternyata panggilan sudah berulang kali, dari ida, rauf, dan beberapa kakak PPI lainnya uu. Aku merasa bersalah , langsung k coba telfon balik, namun sayang ternyata mereka sudah kehilangan wifi bus, yang membuat kami lost communication. Aku fikir mereka akan menunggu di terminal bus itu, tapi ternyata setelah ku susuri jalan hingga sampai pada terminal itu mereka sudah tidak ada. Aku berkeliling kemana2, sekitar hotel, sekitar terminal namun juga tidak menemukan mereka. Sejak awal masih di Indonesia, aku sempat berpesan siapapun diantara kita jika hilang dari yang lainnya, maka segera cari wifi terdekat agar bisa komunikasi. Aku harap mereka seperti itu sehingga aku selalu melihat hp siapa tau ada panggilan dari mereka, tapi tidak ada juga uu. Aku juga sempat berfikir apa mereka nyasar karena mencoba menuju hotel tapi malah salah jalan, kemudian aku juga menyusuri jalan2 yang menurutku mungkin menemukan mereka, tapi hasilnya nihil. Hingga aku pasrah, yang fikir hanyalah, pasti kita akan bertemu, gatau aku yakin sekali setiap kesulitan pasti akan berakhir baik. Aku kembali ke hotel, dan mencoba menelfon2 mereka, namun tidak ada jawaban, aku pun sempat dimarah oleh kakak PPI karena tidak menepati janji. Ya aku merasa bersalah, tapi jujur aku gaada niatan sama sekali untuk ketiduran, aku sudah berusaha berjaga, bangun dan tidur tapi ternyata kelelahan ku memaksaku untuk tertidur pulas. Aku sempat melampiaskan kekecewaanku pada mereka, karena mengapa tidak sesuai dengan janji awal kita yg mana jika hilang kita akan saling mencari koneksi, tapi kenapa mereka tidak melakukan itu uu. Aku juga dimarahi oleh temanku dimana chat itu isinya, mba razty kita ga punya waktu banyak. Karena memang pada hari itu perlombaan kami dimulai, dan koordinasi dari kami belum matang, persiapan stand kami belum disiapkan, dan alat kami masih belum di coba lagi di lokasi lomba. Rasanya aku tidak menentu mau ngapain, aku hanya khawatir bagaimana nasib lombaku hari ini, sedangkan aku kehilangan mereka.

Singkat cerita, akhirnya telfonku berdering dan panggilan masuk dari mereka yang mengatakan raz kita sudah didepan hotel. Aku kaget, bagaimana mereka bisa sampai, bagaimana mereka bisa tau jalan. Sudahlah itu bukan hal penting lagi karena waktu kami sudah mepet, sehingga kami tidak banyak bicara dan langsung bersiap2. Suasana hatiku cukup panas antara merasa bersalah, tapi juga merasa kesal, mungkin begitu juga dengan mereka. Kami sempat berdebat di tengah perjalanan menuju lomba, namun aku bersyukur punya satu orang penengah, yag mengingatkan kami ini hanya hal kecil, yang penting kita sudah ketemu dan sekarang ayo fokus sama lomba. Aku bersyukur punya anggota kelompok yang saling melengkapi seperti itu. Aku meminta maaf, karena posisinya memang sebenarnya aku lah yang salah, karena saat hilang pun mereka ternyata menuju ketempat lomba yang aku gatau bagaimana cara mereka hingga sampai ditempat tersebut, dan mereka berusaha menyiapkan peralatan di lokasi lomba. Aku salah, dan aku kagum sama inisiatif mereka.

Ketika kami sampai di lokasi lomba, kami langsung menyiapkan segala persiapan lomba, yang alhamdulillah waktunya masih tercukupi untuk kami menyiapkan segala property dan dekorasi stand. Disana kami bertemu 2 orang anak SMA dari Denpasar, Bali dan guru pendampingnya yang sangat baik. Lomba pun dimulai sekitar pukul 8 pagi waktu sana. Aku sangat berharap bisa dijuriin oleh bapak professor kenalan ku kemarin, namun ternyata tidak. Tapi saat ia berkeliling menilai para peserta kemudian menemukanku, ia dan aku sangat antusias. Aku kenalkan ia ke teman2ku, dan membangun sedikit obrolan yg kemudian ia harus kembali berkeliling untuk menilai peserta lainnya. Sambil menunggu juri datang, kami terus berlatih koordinasi dalam presentasi, serta menyiapkan segala kemungkinan pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan kepada kami. Beberapa saat kemudian para juri pun datang menghampiri, dan kami memulai presentasi semaksimal mungkin. Disini yang paling banyak berperan menurutku ialah ida, aku bersyukur punya teman sekelompok dengannya yang mempunya pengalaman lebih, pemahaman yang baik, cara penjelasan yang meyakinkan untuk para pendengarnya. Setelah presentasi kami dinilai melalui sebuah checklist dari juri. 

Setelah presentasi kami baru merasakan sangat tenang, kami baru bisa berkeliling untuk melihat stand peserta lainnya. Hasil penelitian lainnya menurutku sangat luar biasa, aku sempat ragu apa bisa atau tidak mendapatkan medali dari perlombaan ini. Kami berkeliling hampir seluruh stand yang ada di lokasi tersebut, mulai dari stand yang dimiliki oleh orang Poland sendiri, prancis, Taiwan, Denmark, korea, dan banyak lainnya aku lupa hehe. Kami juga banyak berkenalan satu sama lain, bertukar social media, dan berfoto untuk menambah relasi. Kebetulan stand samping kami berasal dari Taiwan, seorang bapak2 yang senang sekali berfoto2, ia membawa tongsis, dan sering sekali mengajak foto orang, termasuk kami hehe. Kemudian fotonya di kirim melalui fb yang bisa kami unggah sendiri untuk menyimpannya. Stand yang paling berkesan menurutku ialah saat mengunjungi stand dari prancis. Entah karena motivasi awalku ke eropa karena ingin mengunjungi Menara Eiffel, ataukah karena mereka adalah peserta pertama yang kuajak bicara disaat aku masih survey lokasi pada hari sebelumnya, atau karena mereka yang sangat ramah dan welcome pada kami. Tapi yang jelas aku sangat senang kepada mereka. Saat mengunjungi mereka, mereka juga ingat bahwa aku yang kemarin berkenalan dengan mereka, mereka begitu antusias kepada kami, bahkan kami diberi gantungan kunci Menara Eiffel dan pin berlogo bendera prancis. Gatau kenapa aku senaaang banget bisa menerima kenang2an dari orang prancis itu langsung. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku sangat ingin ke prancis, aku sangat ingin mengunjungi Menara Eiffel, dan mereka juga antusias mendengar itu. Selain itu kami juga berkenalan dengan peserta dari Poland yang mengunjungi stand kami, orangnya ganteng bangeeet wkwk, putih tinggi mancung dan friendly. Setelah Panjang lebar kami bercerita, terus kami juga bertukar kontak dan social media. Jadi hampir setiap orang yang berkenalan dengan kami, pasti selalu kami minta tukar kontak hehe, siapa tau next destination tempat mereka kan kami bisa menghubungi mereka.

Hari pertama pun berlalu, kami lega bisa pulang dengan tenang karena sudah presentasi. Tinggal hari esok yang kami hanya perlu menjelaskan kepada pengunjung saja, tentunya tidak akan setegang jika harus presentasi pada juri yang menilai kita. Selama perjalanan pulang, kami sadar pakaian yg kami kenakan cukup aneh di kota itu, tidak sedikit yang memperhatikan kami, bahkan sampai ada yg berbalik arah dan mengampiri kami hanya untuk menanyakan darimana asal kami. Aku pun menjawab, Indonesia. Responnya, oh pantas saja pakaianmu seperti ini. kemudian ia pergi, kami juga bingung apa tujuannya, tapi yasudahlah karena mungkin memang sangat jarang di kota itu kedatangan orang muslim yang menggunakan hjab. Setelah sampai di hotel kami kelelahan, dan terlebih pada kedua temanku yang belum ada istirahat sama sekali. Sampai di dorm kami bersiap2 tidur, merapikan kamar dan kemudian tidur pulas. Ada sih rencana keliling sekitar hotel di malam hari, tapi ternyata setelah dilihat sekilas, kata temanku banyak orang yang mabuk sehingga bahaya jika kita pergi sendiri untuk keluar untuk menikmati malam itu.

Keesokan harinya kami lebih tenang dalam perjalanan, bahkan kami sempat berfoto2 terlebih dahulu di sekitar hotel sebelum berangkat, kami sempat menikmati udara pagi di kota itu, melihat hiruk pikuk orang2 yang sedang bersiap2 untuk bekerja, mempersiapkan lokasi kerja, dan lainnya. Bangunan di Poland unik, klasik, dan memiliki khas sendiri. Setelah beberapa saat, kami kembali ke hotel dan bersiap2 menuju lokasi perlombaan kembali. Hari yang kurang lebih seperti kemarin, dan kami sempat berkeliling ke stand2 yang belum kami kunjungi. Sore harinya kami diundang untuk mengikuti party yang disediakan dari panitia acara, tapi karena kami masih merasa kelelahan jadi kami tidak hadir dalam acara tersebut.

Malam harinya kami pun datang menghadiri acara penutupan sekaligus pengumuman para pemenang. Sesampainya disana ternyata acara sudah dimulai, dan ternyata Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa polandia uu. Kami bingung, tapi alhamdulillah ternyata disediakan headset translater dalam berbagai Bahasa dan kami memilih Bahasa inggris. Saat itu perasaanku tidak menentu, aku deg2an, aku takut, yang keluar dari mulutku hanyalah doa doa dan doa, sedangkan pada hatiku hanyalah harapan harapan, dan berusaha positive thinking bahwa kami bisa menang. Pembacaan pemenang dimulai dari medali bronze, tiba2 tulisan nama anak2 dari SMA Denpasar keluar dari papan pengumuman, kami semua kaget dan senang sekali, serta mengucapkan selamat kepada mereka. Pembacaan bronze medal selesai, nama kami tidak ada uu. Kemudian berlanjut ke silver medal, dan nama kami pun masih tidak ada. Hatiku semakin berdegu kencang, aku takut tidak mendapatkan medali . Selanjtunya pembacaan gold medal…. Dan alhamdulillah nama kami keluar :’). Kami langsung bersiap untuk maju kedepan untuk menerima penghargaan. Saat akan kembali ke tempat duduk, tampak dari kejauhan bapak professor kemarin, ia berdiri untuk mengucapkan selamat kepadaku dari kejauhan, aku hanya menggunakan isyarat untuk mengucapkan terimaksih banyak, terimakasih atas segala support bapak.

Setelah acara selesai kami pun para pemenang diminta untuk maju kedepan. Kami berfoto bersama2, dan merayakan kemenangan kami didepan panggung. Kami menghampiri bapak professor tersebut dan mengajaknya untuk foto Bersama. Bapak itu sungguh baik, ia memberikan kontaknya kepadaku dan mengatakan ayo ke belgia. Sebelum pulang ke Indonesia, ayo singgah ke Belgia jaraknya cukup dekat dengan menggunakan pesawat, jika kamu kesana saya akan jemput kamu di bandara dan menemani jalan2 selama disana. Aku terharu, aku kagum dengan kerendahan hatinya, aku kagum dengan orang eropa yang tidak menganggap adanya perbedaan kasta, walaupun menurutku ia sudah sangat hebat tapi ia malah menganggap kita adalah sama, dan ia sempat mengatakan kepada ku “because you are my friend”.  Aku pun tak lupa untuk basa basi mengajaknya main ke Indonesia, tapi ia bilang yah kalau saat ini jauh hehe, mending kamu aja yang ke Belgia, karena masih di Eropa. Setelah itu kami berpisah, dan kemudian mengikuti acara makan2. Budaya disana, makan sambil berdiri, kita antri mengambil makanan, dimana itu tidak jelas yang mana halal dan haram uu, jadi amannya aku hanya mengambil kue2 yang tidak berdaging. Air minumnya aneh uu, aku kurang suka rasanya, jadi saat itu aku malah mengambil air kran untuk minum, karena kalau di Eropa itu air krannya bisa diminum kata salah satu kakak PPI. Makanya kami jarang membeli air minum disana, karena dengan mengambil air kran itu sudah cukup.

Dalam perjalanan pulang kami sangat bahagia, bersyukur atas kesempatan dan pencapaian yang diberikan kepada kami. Kami menikmati malam terakhir Katowice saat itu Bersama adik2 dari bali, berfoto2 ria, duduk santai dan lain-lain. Di tengah perjalanan kam bertemu sama juri kami, dan kami bertegur sapa. Ia sangat baik, ia menanyakan setelah ini apakah akan pulang atau mau kemana. Kami bilang kepadanya bahwa kami ingin berwisata di Polandia dahulu, kemudian ia langsung memberikan banyak referensi kepada kami, ia juga memberikan kontaknya, sehingga jika terjadi apa2 kami disuruh menghubunginya. Setelah kami berpisah, timku dan tim bali berdiskusi tentang kota mana yang akan kita kunjungi. Kami mengatakan bahwa kami Sudah membeli tiket ke warsaw, apakah mereka ingin ikut atau tidak. Awalnya ia, tapi setelah bertemu professor itu mereka rubah fikiran dan memilih untuk mengunjungi Krakow.

Malam itu batas penyewaan kamar di hotel kami sudah habis, sehingga kami menumpang di kamar adik2 dari Bali tersebut hehe, karena dini hari kami sudah harus berangkat lagi menuju warsaw, jadi ya lumayan uangnya kalau dibuat nambah nyewa kamar sehari lagi. Malam itu pun kami berbagi tempat tidur, kamarnya memang cukup besar, ada sofa yang bisa kami gunakan untuk tidur, ada karpet untuk tidur lesehan. Mereka memang sangat baik, bahkan gurunya malah yang tidur dibawah dan menyuruh kami untuk tidur diatas uu. Ga enak sih, Cuma memang budget kami sangat minim saat itu, jadi harus pintar2 dalam menekan biaya hidup disana. Malam itu kami juga memasak pop mie gelas, dimana sorenya adik2 sma itu bilang bahwa mereka rindu makan mie, dan kami bilang bahwa kami bawa persediaan itu hehe dan kami membawa alat untuk merebusnya 😊. Malam itu rasanya nikmat, lebih nikmat dari makan2an party tadi hehe, makan indomie, menikmati keberhasilan ya didapat, dan bersenda gurau bersama. Setelah mulai lelah satu per satu dari kami mulai tidur, tapi aku sengaja mengajak teman setimku untuk saling berjaga, karena khawatir ketinggalan bus. Sekitar pukul 3 dini hari, kami pun bersiap2 untuk berangkat ke warsaw yang akan ditempuh sekitar 4-6 jam perjalanan.

Sabtu, 10 Februari 2018

First Day in Poland


Hari 1 Katowice, Polandia (21 Juni 2017)
Aku terbangun sekitar pukul 08.00 waktu eropa. Ku lihat sekitar ternyata sudah ada beberapa orang yang terbangun dan kami membangun obrolan sebentar sembari bersiap2.  Kamar kami tersedia 1 kamar mandi dan 1 toilet serta dapur yang menurutku nyaman, ada balkon di belakang dimana kita bisa merasakan sensasi bangunan eropa yang klasik, serta cuaca malam yang dapat menghiburku menikmati suasana saat itu. Aku mulai merapikan barang2ku di lemari agar terlihat rapi, ku setrika baju yang akan ku gunakan saat itu, ku gantungi baju yang belum begitu kotor, kemudian mandi dan bersih-bersih. Saya kurang senang toilet di eropa, karena disana tidak menggunakan air untuk bersih2 setelah buang air, tapi hanya menggunakan tissue. Aku kurang nyaman, sehingga ku gunakan gelas yang sebelumnya ku tampung air terlebih dahulu agar menyamakan dengan toilet di Indonesia. 

Setelah siap, aku mulai berpetualang sendiri karena di hari itu aku masih sendiri di eropa sedangkan kedua temanku menyusul datang di esok hari dengan jam kedatangan yang persis sama seperti aku tadi malam yaitu sekitar pukul 02.20 a.m. Aku mulai mengenali lingkungan sekitar untuk persiapan beberapa hari kedepannya. Mulai dari menikmati dan memaknai bangunan2 disana, sekedar berfoto2 tempat di sekitar hotel, kemudian ku cari tempat penukaran uang dollar ke zlotty, mencari lokasi lomba, menghafal jalan sekitar, mengingat tepat pemberhentian bus tadi malam agar aku bisa menjemput kedua temanku nanti malam, dan menikmati suasana di polandia saat itu. Aku sedikit kesulitan mengenai komunikasi disana, karena sebagian besar penduduk polandia tidak bisa berbahasa inggris, untungnya aku selalu diawasi oleh kakak2 PPI, yang mana mereka membantuku bagaimana Bahasa polandia, ya walaupun hanya sekedar salam disana bagaimana, kemudian bagaimana mencari tempat penukaran uang, dan bagaimana Bahasa untuk mengatakan jika saya ingin menukarkan uang. Perlahan ku perhatikan sekitarku untuk mencari tempat tersebut, dan ternyata tempat terdekat ialah benar2 disamping hotelku. Aku masuk ke ruangan kecil itu dan mencoba berlatih Bahasa Poland itu serta mengaplikasikannya saat berkomunikasi dengan orang, yang kira2 seperti ini, “dzien dobry (selamat pagi) “, ” czy pan mowic po angielsku? (apakah mr bisa ngomong inggris?)”. orang tersebut malah tertawa saat ku mencoba Bahasa tersebut, hehe mungkin logatku benar2 aneh. Kemudian ia menjawab yes I can. Selanjutnya aku berkomunikasi dengan Bahasa inggris. Setelah itu aku mencoba menikmati pasar pagi di sekiar hotel, mulai dari tas2 kecil, sepatu, baju dan lain2 banyak dijual, namun aku sulit untuk menanyakannya lebih lanjut, selain karena aku tidak berminat karena harga yang sangat mahal itu, mereka juga jarang yang bisa Bahasa inggris. 

Selanjutnya aku pun mulai mencari lokasi lombaku, berbekal kartu hp yang sudah diisi internetnya aku benar2 berpasrah pada google maps dan terus mengikuti alurnya sambil menghafalkan jalan menuju kesana alone travelling memang asik, aku bisa sesuka hati untuk berjalan, berhenti dan menikmati suasana, berhenti untuk berfoto2 serta memfoto bangunan2 klasik yang aku lewati. Aku bebas mau pergi kemana saja tanpa khawatir ada yang merasa tidak nyaman, tapi disatu sisi juga aku tidak nyaman karena sulit mengabadikan momen itu karena tidak ada yang bisa fotoin aku, Cuma selfie2 doang jadinya huhu. Suasana disana nyaman, tidak begitu panas dan tidak begitu dingin, orang2 disana menurutku individualis, tidak seperti di Indonesia dimana setiap kita lewat mau kenal ataupun tidak kita saling sapa, saling senyum. Namun disana tidak sama sekali, orang sibuk dengan masing2 tujuannya, berjalan begitu cepat, tertib, dan teratur. Aku kagum dengan kedisplinan disana, orang2 disana seperti menganggap waktu sangat berharga, terlihat dari cepat dan tangkasnya mereka berjalan. Kemudian saat ada lampu merah, semua yang berjalan jika memang masih lampu merah maka tidak ada satupun yang melanggar, begitupun kendaraan. Wajar saja ketika kita mendengar jarang sekali ada kecelakaan lalu lintas disana. Saat lampu hijau untuk pejalan kaki pun kita harus sigap, harus cepat dalam berjalan, karena waktu yang tersedia hanya sedikit sehingga jika kita berleha2 saat berjalan bisa2 tertabrak oleh kendaraan yang lewat.

Aku sampai di lokasi pada siang hari, bangunannya bagus unik, menentramkan karena kehijauannya, menawan di malam hari, aku terkesima dengan keadaan saat itu. Aku mencoba masuk kedalam bagunan itu, keadaannya ramai, ramai akan orang2 berjas hitam. Mungkin aku terlihat kebingungan aku dihampiri oleh salah satu dari orang2 tersbut yang kemudian ia bertanya apa yang sedang saya lakukan disini, dan apa yang bisa ia bantu. Aku menceritakan tentang lomba, kemudian dengan baik hati ia mengantarkan aku ke lokasi dimana stand2 pameran sedang dipersiapkan. Ku coba cari satu per satu, dan akhirnya aku menemukan stand Indonesia disana. Mungkin aku menghabiskan waktu cukup lama di Gedung itu, untuk mengabari kedua orang tua ku bahwa aku disini baik2 saja, aku juga mencoba mempelajari seluk beluk di Gedung itu agar tidak kelabakan saat sesi lomba dimulai. Setelah cukup puas aku pun keluar, dan lalu duduk di suatu taman untuk menikmati. Untuk pertama kalinya aku meminta tolong orang sekitar untuk mengambil fotoku, karena aku benar2 ingin punya foto sendiri. Aku bersyukur selama disana aku terus bertemu dengan orang baik. Setelah cukup lama menikmati, lalu datang seorang bapak2 menghampiriku. Ia bertanya “apakah ini lokasi invention besok?”. Aku menjawab dengan antusias, iya sir, ini tempatnya. Saya sudah masuk tadi, apakah bapak juga peserta lomba besok? Oh bukan, saya diminta untuk menjadi juri disini. Aku tertegun, aku juga berfikir ini kesempatanku untuk bisa berbicara banyak dengannya sehingga besok saat lomba ia bisa lebih kenal dengan kelompokku dan menaruh perhatian lebih. Ia pun kemudian masuk kedalam, dan ia mengatakan kepadaku “saya masuk sebentar, tunggu disini ya, saya akan balik lagi kesini”. 

Saya terus duduk menikmati sambil menunggu bapak tersebut. Tidak lama kemudian bapak itu kembali dan menghampiriku. Selanjutnya kami ngorol Panjang lebar, mulai dari inovasi apa yang ku lombakan, hotel tempat tinggal dimana, asal negara kami, berapa lama kami di eropa, pengalaman2nya selama kerja, tentang pengalaman komunis yang saat itu menghantui keluarganya, sampai obrolan tentang kritisi mengenai cara pembangunan bangunan yang baru sedang dibangun. Bapak tersebut berasal dari Belgia, aslinya ia berasal dari Uni Soviyet yang kemudian mereka sekeluarga pindah ke Belgia untuk mendapatkan ketenangan, bapak itu juga seorang professor, ia menjabat dengan posisi tinggi di tempat kerjanya namun aku lupa tepatnya dimana. Menurutku orang tersebut luar biasa baik, ramah, asik, seru, rendah hati, karena kalau difikir aku awalnya merasa minder dengannya. Aku berasal dari Indonesia, yang tentu semua orang tau kalau eropa jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, aku juga hanya mahasiswa, sedangkan ia seorang pejabat penting ditempatnya. Di Poland, ia tinggal di hotel ternama mewah dan yang saya dengar dari orang2 itu hotel terindah di kota itu, dengan harga yang sesuai tentunya, sedangkan aku hanya tinggal di hotel murah denga nisi kamar banyak orang. Tapi bagaimana ia memperlakukanku? Aku merasa tidak ada gap2 tersebut, ia menganggap kita semua sama, tidak ada istilah lebih tinggi dan lebih rendah. Aku benar2 kagum, tidak hanya pada orang itu tapi seluruh orang eropa yang ke temui disana, karena disana aku diajarkan arti kesamaan dan tiada tingkatan derajat seseorang. mereka tidak menuntut untuk di hormati, tapi dengan perlakuan mereka kita yang akan segan, mereka membuat kita seperti layaknya teman sepermainan, bercanda dan lain-lain. setelah beberapa lama, kami pun pulang. Awalnya ia menawarkan untuk menggunakan taksi, karena saat ia pergi ke lokasi ini ia menggunakan taksi, namun aku menoaknya, karena aku lebih memilih berjalan kaki yang tentu lebi murah dan lebih mendapatkan pengalaman. Akhirnya ia mengikutiku berjalan kaki, karena kebetulan hotel kami searah. Kami terus ngobrol dan bercanda, bahkan ia sempat bilang gini “coba kamu lihat orang2 yang dari tadi berjalan, semua memperhatikan kita, apa coba yang mereka fikirkan?”. Aku hanya jawab ya mungkin ini teman, atau anak orang tua. Terus ia menjawab, ga mungkin kalo mereka mengira kita adalah anak dan ayah, karena wajahmu asia dan saya barat. Tapi mungkin mereka akan mengira kalau kita suami istri. “what” aku bingung sih dengan perkataan itu dan sedikit tidak nyaman, tapi aku hanya berusaha tertawa akan candaannya dan akhirnya daripada aku lebih tidak nyaman lagi aku memutuskan untuk berbelok arah, aku mengatakan kepadanya bahwa hotelku kearah sana. Akhirnya perjalanan kami sampai disitu dan kami berpisah.

Aku sampai di hotel di sore hari, dan buru2 untuk sholat zhuhur dan ashar yang saat itu aku jamak. Sejujurnya aku kurang nyaman untuk beribadah disana, kondisi disana yang menurutku sangat rasis,dimana jika kita sedang sholat semua orang yang lewat akan memperhatikan kita. Saat ku berjalan saja orang2 memperhatikanki, karena saat itu aku menggunakan jilbab yang Panjang. Karena menggunakan jilbab saja sudah aneh, apalagi dengan ukuran sebesar itu. Saat aku sholat di kamar pun teman2 lainnya memperhatikanku dan bertanya banyak tentang islam kepadaku. Aku juga sempat merasakan mereka sedikit memandan rendah Indonesia, dengan mengatakan harga barang2 di Indonesia murah, aku bisa beli banyak disana dan kemudian menjualnya disini, ya dan lain sebagainya. Tapi hanya satu orang yang mengatakan seperti itu, selebihnya menurutku sangat baik, sangat cantik, ya semua orang di eropa menurutku sangat ganteng dan cantik , bahkan hanya cleaning service pun begitu cantik dan bening. Aku tidur saat maghrib, yang disana maghribnya ialah jam 9.00 pm. Karena kelelahan dan kelaparan, akhirnya aku tertidur pulas sekali malam itu.

Rabu, 31 Januari 2018

Goes to Europe (Part II)

20 Juni 2017
Qatar-Berlin-Katowice, Poland

Shubuhnya aku sampai di bandara Qatar, seketika ku buka Hp banyak banget notif yang masuk. Dan tadaa, ku lihat satu per satu chat, diantaranya keluargaku dan kedua temanku itu :”). Keluargaku sangat khawatir denganku, sampai mamaku meminta aku memfoto semua identitasku, passport, visa, tiket, dan semuanya agar jika terjadi apa-apa mereka bisa dengan mudah melacak keberadaanku. Setelah proses imigrasi aku langsung melakukan semua yang diminta oleh orang tuaku itu. Chat berikutnya adalah dari Ida, isinya kira2 intinya “mba razty alhamdulillah kita berdua berangkat pake Turkish airlines, nanti kita ketemu di Poland ya mba. Sampe di Berlin mba nanti dijemput sama mas x (salah satu anggota PPI Polandia). Semua sudah diurusin sama kakak2 PPI, mba razty tenang aja”. Seketika itu semua kekhawatiranku hilang, aku baru merasakan nikmatnya perjalanan setelah mendengar kabar itu. Sebenarnya aku membaca chat tersebut ketika masih dari bus menuju bandara di Qatar sih hehe. Setelah itu baru aku bisa foto-foto dengan tenang, menikmati tripku, fokus belajar untuk persiapan presentasi nanti, dan hatiku benar2 tenang. 

Kurang lebih 2 jam di Bandara Qatar selanjutnya aku melanjutkan perjalanan menuju berlin. Itu adalah pertama kalinya aku pergi sendiri, akhirnya untuk menghilangkan kebosanan, aku mengajak ngobrol salah satu penumpang berasal dari Jerman. Awalnya aku hanya meminta tolong kepadanya untuk memfotokanku, namun setelah itu kami berkenalan dan saling bercerita tentang pengalaman kami. Aku senang, karena aku merasa aku bisa menikmati obrolanku Bersama orang asing yang awalnya ku fikir akan sulit bagiku mencerna pembicaraan itu. Waktu boarding pass pun tiba, kami terus berjalan Bersama hingga sampai di pintu pesawat, dan akhirnya kami terpisahkan karena lokasi seat yang jauh berbeda. Aku menuju seat ku dan ternyata aku duduk dengan anak usia sekitar 7 tahunan berasal dari Iraq yang pergi Bersama keluarganya. Mereka juga memiliki kesulitan dalam berkomunikasi Bahasa inggris, sehingga tidak banyak obrolan antara aku dengan anak tersebut. Namun anak itu begitu lucu, ganteng, dan seru walaupun kita berkomunikasi hanya menggunakan isyarat. Sesekali ibunya melihat kepadaku dan tersenyum, dan ada beberapa obrolan pendek antara aku dengan ibunya. Bahkan ia menitipkan anaknya kepada ku sebentar sembari ia pergi ke toilet. 6 jam berlalu, dan alhamdulillah aku sampai di Eropa tepatnya Berlin, Germany. 

Bayanganku, bandara di berlin akan seperti di Qatar, Dubai, ataupun lainnya yang sangat bagus. Tapi ternyata aku sempat kaget dengan keadaan bandara disana, karena menurutku bandaranya tergolong kecil dan sederhana. Bahkan dibandingkan bandara Pontianak, menurutku masih bagusan Pontianak. Tapi itu hanya menruutku secara fisik, mungkin dari segi teknologi akan jauh berbeda hehe.

Aku turun dari pesawat kemudian naik bus yang mengantarkanku ke bandara. Selama di bus aku bertemu dengan orang Indonesia, seorang bapak, ibu, dan anaknya datang ke jerman untuk liburan dan menemui anaknya yang sedang kuliah di Frankfurt. Betapa senangnya aku ketika bertemu dengan sesame orang Indonesia, karena bagaimanapun Bahasa Indonesia adalah Bahasa ternyaman yang aku pakai saat itu. Kami ngobrol Panjang yang ternyata anak dari bapak itu tidak menjemputnya di Bandara sehingga ia dan keluarganya sedikiti kebingungan untuk mencari tempat tinggal anaknya. Akhirnya aku mengatakan bahwa aku dijemput oleh kakak PPI, dan kemudian bapak itu mengikuti kami dan ia juga dibantu oleh kakak PPI tersebut agar bisa sampai pada lokasi tempat anaknya tinggal.

Begitu sampai di bandara Berlin, aku langsung menyambungkan hp ku wifi, dan ternyata mas ppi nya sudah nge whats app dulu, dan mengatakan kalau ia sudah di bandara dan ia akan menunggu saya depan pintu terminal. Hatiku melonjak senang dan tenang karena berarti aku tidak seperti anak terlantar yang kehilangan arah :’). Saat itu aku keluar pintu dan langsung mencari orang dengan berwajah Indonesia dan berbaju merah. Yaa aku ketemu, ia langsung menyambut hangat dan ia menawarkan makan terlebih dahulu karena ia tau perjalanan panjangku pasti sangat melelahkan. Namun aku menolak karena pada saat itu aku sedang berpuasa. Puasa di eropa memang benar-benar diuji kesabarannya karena kita berpuasa 18 jam, dengan posisi sahurku yang tidak menentu dan entahlah aku juga tidak mengerti membuatku saat itu memang merasa sangat lapar. Namun aku berusaha untuk kuat, karena bagaimanapun aku bisa sampai di tempat itu atas izin Allah, dan aku tidak ingin mengecewakan Allah hanya karena kelaparan dan kelelahan sedikit aku harus membatalkan puasa. Sebenarnya perjalananku belum selesai, karena tujuan utamaku adalah Katowice, Polandia. Jadi setelah sampai di berlin aku langsung diajak ke dorm kakak nya untuk istirahat dan sholat kemudian aku langsung diantar kembali ke terminal bus yang saat itu aku menggunakan Polsky bus. Jujur, aku sangat tersentuh akan kebaikkan kakak tersebut, ia meminjamkan kami rice cooker untuk perlombaan kami, dan ia meminjamkan kartunya untuk kami gunakan selama di eropa, sehingga kami tidak harus mencari2 wifi dulu untuk bisa mendapatkan internet. Aku gatau mau bilang makasih nya kayak gimana lagi, karena itu benar-benar menyelamatkan hidup kami disana. Setelah kakak itu mengantarkan aku ke terminal, aku menunggu kedatangan bus nya, yang tentunya sudah secara jelas di jelaskan bagaimana cara-caranya oleh kakaknya, dan untuk tiketnya sudah dibelikan oleh kakak PPI Poland yang lain hingga penginapan di Polandianya.

Sembari menunggu, aku bermain hp dengan rice cooker yang ku letakkan di sampingku. Hingga tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengajakku mengobrol hingga meminta kontakku sebagai tambahan kenalannya. Laki-laki itu sangat tertarik dengan rice cooker ku, ia terlihat sangat antusias bertanya-taya tentang rice cooker untuk apa, dan dia mengatakan pernah makan nasi dan ia sangat menyukainya, ia juga begitu penasaran bagaimana cara memasak nasi dengan benar. Setelah beberapa lama kami mengobrol, tibalah bus ku melintas didepan dan aku segera berpamitan dengan laki-laki itu. Orang tersebut sangat mendukungku dalam perlombaan, dan ia selalu mengatakan jika setelah lomba selesai kami di ajak untuk liburan ke rumahnya yang kebetulan juga berada di Polandia namun berbeda kota.

Aku terus berjalan menuju bus itu, kemudian mencari dimana lokasi tempat dudukku. 6 jam perjalanan yang menurutku melelahkan. Bus itu memang sangat nyaman, bus dengan 2 lantai itu memiliki fasilitas wifi, ac, kabin, kursi yang empuk, namun aku merasa sangat Lelah tapi khawatir jika tertidur. Karena jika tertidur, bisa-bisa aku melewati kota yang ku tuju. Tapi alhamdulillah qadrullah setiap kali ak tertidur, aku selalu terbangun saat bus tersebut sampai di kota tujuanku. Aku sampai di kota tujuanku pada dini hari, yang mana cuaca pada saat itu sangat dingin karena musim peralihan dari summer ke autumn sedangkan aku tidak membawa jaket sama sekali karena tertinggal saat buru-baru pergi menuju bandara jogja. Bermodalkan kartu yang ada internetnya, aku mencari hotel yang sudah dipesankan untukku di Katowice. Hembusan angin malam memang terasa sangat dingin, namun karena hatiku yang berdebar-debar karena saat itu sendiri, malam-malam sepi aku hanya berjalan sendiri mencari dan mengikuti arah google maps. Karena saat itu satu2nya yang bisa ku percaya hanya google maps di hp ku, aku mondar mandir sekitar setengah jam dan akhirnya menemukan hotel itu yang ternyata lokasinya tidaklah jauh dari tempat pemberhentian bus tadi. Sesampainya di hotel, pintunya tertutup. Dalam beberapa menit aku cukup bingung bagaimana mengoprasikan kode2 yang ada didepan hotel tersebut agar bisa terbuka. Sebelumnya memang dari pihak hotel telah mengirim sms kepadaku tentang bagaimana cara masuk hotel, karena kedatanganku diluar jam kerja sehingga mereka hanya bisa memberikan cara melalui Tulisan di sms itu. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki datang menghampiriku dan bertanya bagaimana cara masuk hotel ini, dan alhamdulillah saat itu aku menemukan caranya dari sms pihak hotel sebelumnya.


Kemudian aku masuk kedalam dan terus mencari lantai kamarku, namun beberapa kali aku terhalang kembali dan agak kesulitan untuk bisa masuk kedalam kamar. Sekitar 2 jam aku menunggu dan sempat berfikir aku hanya menunggu di tangga sembari menunggu hotel buka kembali. Tapi dalam beberapa menit aku masih ingin mencoba kembali untuk membuka pintu, dan alhamdulillah ternyata bisa terbuka. Aku menuju kamar dengan perasaan tenang dan lega, kemudian aku sholat serta sahur sebisa ku dengan bekal yang sudah ku bawa dari Indonesia yaitu nasi popaye dan kue2 yang telah kukumpulkan selama di pesawat. Setelah itu pun aku tertidur, dengan 4 orang lainnya dalam kamar tersebut.

Goes to Europe (Part I)

 19 Juni 2017
Joja - Kuala Lumpur

Alhamdulillah hari ini kami mulai perjalanan kami, setelah beberapa rintangan terlewati dan hari ini telah tiba. Aku berfikir kalau setelah in hanya sedikit rintangan yang akan dilewati, Aku merasa kami sudah pasti berangkat, dengan pegangan tiket masing-masing dari kami, dan Aku yakin semua akan berjalan mulus. Sekitar pukul 5 sore, kami berangkat dari Jogja menuju ke Kuala Lumpur. Sampai di KL kami masih mempunyai waktu banyak, karena keberangkatan dari KL menuju Qatar masih pada jam 2 dini hari. Sehingga kami menghabiskan waktu untuk sholat, foto-foto, makan, dengan santainya. Sekitar jam 11 kami sudah mulai menunggu di ruangan check in, harapannya ketika check in di buka kami bisa langsung check in dan bisa tenang untuk semua urusannya. Sambil menunggu bukanya check in, kami sambil berfoto-foto. Sekitar pukul 12.00, hal yang terduga datang menimpa kami. Ida menerima email bahwa tiket yang telah dibeli kemarin di tolak sepihak.

“Sedikit cerita tentang proses pembelian tiket kami. Kami membeli tiket pada h-3 keberangkatan, dimulai dari siang-sore hari. Namun ternyata pembelian tiket harus menggunakan credit card. Beberapa travelling agent kami coba, namun ternyata hampir semua sama yaitu harus menggunakan credit card. Akhirnya Aku menelfon keluarga Aku yang saat itu memiliki credit card, namun ternyata tidak bisa karena limitnya kurang. Kami berusaha menghubungi semua teman yang memungkinkan, namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya Aku menemukan travelling agent nusatrip yang bisa menggunakan ATM Indonesia dalam transaksi pembayaran. Tapi pembayaran hanya bisa dilakukan dalam 1 jam, sedangkan ATM Aku mempunyai limit hanya 5juta untuk transfer dalam sehari, sedangkan harga tiket sekitar 11 juta. Awalnya Aku yang kebagian untuk membeli tiket semua anggota kelompok, namun karena terkendala limit itu akhirnya Aku memutuskan untuk membeli 1 tiket terlebih dahulu baru membeli tiket teman Aku yang lain. Aku pun kemudian membayar tiket tersebut, dengan perasaan tegang dan cemas karena jika dalam 1 jam tidak terbayar lunas maka tiket tidak akan terbeli dan uang yang telah dibayarkan akan hangus. Solusinya saat itu Aku menggunakan ATM Aku, ATM abang Aku, dan ATM orang tua Aku. Aku sangat bersyukur mempunyai keluarga yang begitu mendukung, entah bagaimana lagi Aku harus berterimakasih kepada mereka dengan pengorbanan uang tenaga dan fikiran yang mereka lakukan untuk Aku. Singkat cerita, alhamdulillah 1 tiket terbeli, dan kemudian tinggal memikirkan 2 tiket yang lainnya. Dalam jangka kurang lebih 2 jam, tiba2 terdengar notification dari travelling agent tersebut dan mengatakan transaksi Aku tidak berhasil. Terus Aku berfikir, lantas gimana dengan uang yang telah Aku bayarkan tersebut. Karena ternyata harga tiket naik, dan Aku harus membayarkan uang tambahan sekitar 2 juta lagi, atau kalau mau di cancel uangnya akan kembali seminggu kemudian. Fikiranku yang awalnya sudah mulai tenang kemudian memuncak lagi, Aku kembali panik sampai akhirnya Lelah untuk memikirkan hal tersebut. Keputusan akhirnya Aku menambah uang 2 juta tersebut karena untuk mendapatkan uang talangan yang lain sebelum uang sebelumnya dikembalikan menurut kami lebih sulit. Setelah Aku bayarkan alhamdulillah 1 tiket selesai dan e-ticket pun tercetak. Keesokkan harinya kami masih berfikir bagaimana cara membeli 2 tiket yang lain, karena 1 tiket saja sudah banyak menguras tenaga. Sekitar pukul 8 pagi, akhirnya ida mendapatkan pinjaman credit card melalui temannya. Yang akhirnya kami bisa membeli tiket untuk 2 orang lainnya. Setelah e-ticket keluar kami benar-benar merasa lega, tenang, dan hanya tinggal memikirkan persiapan keberangkatan.”

Setelah notification itu masuk, kami bertiga panik. Karena untuk menghubungi pihak travelling agent, kami posisinya sudah berada di Malaysia, sehingga kartu hp kami tidak berfungsi. Kami langsung menghampiri penjual nomor telfon di Malaysia untuk membeli kartu. Tapi alhamdulillah orang tersebut sangat baik, ia meminjamkan hp nya kepada kami dan pulsanya untuk menelfon nomor tersebut. Bahkan orang tersebut terus terlibat hingga masalah kami selesai. orang terseut dengan sepenuh hati membantu kami, berusaha mencarikan temannya yang punya ATM, membantu mencarikan solusi untuk membeli tiket baru, dan lain sebagainya. Berbagai usaha telah kami fikirkan, mulai dari mencari pinjaman uang untuk membeli tiket baru, meminjam ATM orang Malaysia untuk megambil uangnya, bernegosiasi dengan pihak travelling agent tersebut, dan banyaak lainnya. Namun hasilnya nihil juga, tidak ada yang berani meminjamkan uang sebesar itu, yaitu sekitar 24 juta untuk membeli 2 tiket baru. Sampai Aku pun berfikir apakah kepergian kami ini bukan lah hal yang di ridhoi Allah, karena sejak awal begitu banyak hambatan yang lalui. Sampai di titik sekarang pun, yang menurutku awalnya akan berjalan mulus karena tiket sudah ditangan tapi ternyata muncul masalah sebesar ini. Uang yang telah dibayarkan ke travelling agent akan kembali 2 minggu setelah ini. Bagaimana tidak panik, uang telah melayang, tiket belum dapat, hanya Aku sendiri yang tidak bermasalah tiketnya pada saat itu, dan perjuangan, pengorbanan, serta uang yang telah kami keluarkan hingga titik ini sudah terlalu banyak. Hanya tinggal selangkah lagi, tapi kenapa masih adalah rintangan. Sempat terfikiran olehku apakah lebih baik kami pulang saja, dan batal untuk mengikuti lomba ini. Karena fikirku aku telalu egois jika hanya berangkat sendiri, dan aku juga berfikir bagaimana nasibku sendiri di negara orang yang sangat jauh seperti itu jika tanpa mereka. Aku pun menelfon orang tua, dan orang tuaku juga sangat khawatir serta menyuruhku untuk balik saja ke Indonesia. Hati Aku masih berkecamuk, antara balik Indonesia dan membiarkan semua usaha dan perjuangan kami gagal begitu saja atau melanjutkan perjalanan yang belum tau bagaimana nasibnya, belum tau apakah kedua temanku yang lain bisa berangkat atau tidak, dan belum tau bagaimana kalau aku membawa nama Indonesia dengan modal sendiri, sedangkan alat yang kami bawa sangat berat yaitu sekitar 11 Kg, sehingga sangat membutuhkan tenaga cowo untuk membantu membawa alat ini. 

Waktu terus berjalan, waktu check in pun telah terbuka, namun kami masih dalam keadaan sulit seperti itu. Aku pada saat itu akhirnya berfikir untuk mencari aman terlebih dahulu, yaitu mencheck in kan barang2 Aku ke bagasi dan kemudian melanjutkan pencarian solusi tadi lagi. Rauf mendapatkan informasi bahwa temannya bisa membantu membelikan tiket baru, namun itu juga belum pasti. Aku pun menelfon orang tua kembali dan meminta restu untuk berangkat karena masih ada kemungkinan kedua temanku bisa ikut walaupun menyusul. Dengan berat akhirnya kedua orang tuaku memberikan izin tersebut. Tapi hatiku masih sangat bimbang, karena bagaimanapun sebenarnya belum ada kepastian dari kedua temanku apakah benar bisa berangkat atau tidak. Hal lain yang Aku fikirkan ialah apakah bisa Aku seorang diri tanpa teman diskusi melanjutkan perjalanan ini,bagaimana situasi disana, bagaimana keadaannya, bagaimana orang-orangnya, dan apakah Aku bisa berkomunikasi dengan modal Bahasa inggris yang seperti ini. Pada 15 menit terakhir check ini, aku kembali menemui petugas di bagian check in dan menanyakan apakah tas yang sudah Aku masukkan ke bagasi bisa Aku ambil kembali? Kira2 percakapan Aku dengannya seperti ini:
S: Aku tidak jadi berangkat
P: Kenapa?
S: Karena kedua teman Aku tidak jadi berangkat, apakah masih bisa Aku minta kembali bagasi Aku?
P: Ya, tapi apakah kamu benar-benar ingin berangkat?
S: Aku sangat ingin, tapi apakah waktu 10 menit ini Aku masih bisa mengejar pesawat itu dengan posisi Aku masih dsini?
P: jika kamu memang benar-benar ingin berangkat, Aku akan hubungi pihak pesawat untuk menunggu. Tapi kamu harus berlari mulai dari sekarang.
S: Aku bingung pak, tapi bismillah ya Aku akan berlari kesana. Tolong bantu untuk menghubungi ya pak, terimakasih

Pada 10 menit terakhir check in akhirnya kami bertiga memutuskan “YA”, Aku harus berangkat. Entah apa ya membuat kami yakin hal itu dengan semua ketidakpastian yang ada, fikirku hanyalah Allah tidak akan membiarkan hambanya menderita, Ia hanya ingin melihat hambanya berusaha sampai titik penghabisan terlebih dahulu. Aku hanya mengatakan kepada mereka “Bismillah aku berangkat, dan aku percaya kalian pasti bisa nyusul, insyaallah kita ketemu di Eropa ya”. Karena kalau di logika aku juga tidak habis fikir bagaimana aku bisa yakin bahwa mereka bisa menyusul, tapi aku sangat percaya pasti ada pertolongan Allah dan pasti mereka bisa menemukan bagaimana caranya. Aku berpamitan kepada mereka dan hanya modal percaya dan yakin bahwa mereka bisa menyusul, kemudian aku berlari sebisaku.


Aku berlari dan terus berlari, sampai aku merasakan perut kanan ku kembali sakit karena berlari itu, dan seluruh petugas bandara tau bahwa aku adalah penumpang terakhir dan dengan mudahkan mereka membantuku melewati seluruh proses imigarasi dan seleksi lainnya. Aku hanya disuruh berlari segera sebelum pesawat take off. Singkat cerita, aku sampai didepan pintu pesawat dan disambut oleh pramugari cantik berhidung mancung, dan menyambutku dengan seyuman. Ia kemudian mengarahkan aku ketempat dudukku. Harusnya aku merasa sangat senang, karena bisa merasakan kemewahan pesawat Qatar airways, yang menurutku luar biasa. Namun hatiku tidak bisa melepaskan kesenangan itu karena masih terus menyisakan perasaan khawatirku. Bagaimana keadaan mereka berdua, apakah mereka bisa menyusul, bagaimana nasibku sesampainya di Jerman, karena kontak PPI hanya ada di Ida. Ya terlalu banyak kekhawatiran yang berlalu lintas di fikiranku, yang membuat perjalananku tidak begitu menyenangkan. 8 jam didalam pesawat mewah seperti itu memag tidak begitu terasa, dengan fasilitas tv, selimut, music, game, berita, makan dan minum yang tidak berhenti datang kepada seluruh penumpang, dan fasilitas wifi yang memungkinkan aku memberi kabar ke keluargaku. Saat itu bulan Ramadhan, sehingga aku bingung, bingung kapan waktu sahur dan imsak, karena perbedaan waktu yang membingungkan itu.

Minggu, 29 Oktober 2017

Preparation for Visa Europe

Ternyata diterimanya kami untuk mengikuti lomba ini bukan berarti langkah untuk berangkat tinggal selangkah lagi, tapi begitu banyaak halang rintang yang harus kami lalui, salah satunya visa.

Menurutku visa eropa merupakan visa dengan persyaratan yang lumayan ribet dan harus mempersipkannya sejak jauh-jauh hari, serta harus matang. Setelah ini akan ku ceritakan secara detail yaa gimana proses pembuatan visa kami, dan bagaimana cara-cara yang kami lakukan agar bisa lolos.

Pertama-tama pelajarin dulu syarat visa. Visa untuk ke eropa itu ada 2 macam yaitu visa nasional dan visa Schengen. Bedanya apa? Jadi, visa nasional itu ialah visa yang digunakan hanya untuk 1 negara di eropa. Misalnya, jika kamu mau ke polandia, yaudah visa itu hanya berlaku untuk di negara polandia. Kalau visa Schengen adalah visa yang bisa digunakan untuk semua negara yang termasuk dalam uni-eropa. Untuk negaranya bisa dicari sendiri yaaa apa saja.  Jadi disini saya pengen ceritain gimana pembuatan visa Schengen, karena kemarin yang saya gunakan ialah visa Schengen. So bagi kalian yang ingin membuat visa, kenalin dan pelajarin terlebih dahulu ya tujuan kalian pergi, berapa lama, dan putuskan mau menggunakan visa jenis apa.

Visa Schengen bisa di buat di kedutaan apapun yang termasuk kedalam list nya, tapi ada beberapa pertimbangan, yaitu lama tinggal, kedatangan pertama kali, dan negara tujuan utamanya apa. Jadi kedua, putuskan sebenar-benar nya di kedutaan mana kalian akan membuat visa tersebut, karena itu akan sangat menentukan diterima atau tidaknya visa kalian.

Kalo sudah memutuskan mau visa Schengen dan memilih kedutaan apa yang pas untuk kalian maka selanjutnya lakukan pendaftaran. Karena kemarin saya daftar di kedutaan Polandia, jadi saya akan menceritakan tentang syarat-syarat pembuatan visa Schengen di kedutaan Polandia. Sekali lagi, setiap negara punya ketentuan yang berbeda, jadi ikuti syarat sesuai negara yg kamu pilih dalam pembuatan visanya yaa..

Untuk pendaftaran dan ketentuan lengkap mengenai pembuatan visa Schengen di kedutaan Polandia, kalian bisa lihat disini yang merupakan web resmi kedutaan Polandia. http://www.dzakarta.msz.gov.pl/en/consular_information/visas/
Silahkan dipelajari sejelas-jelasnya yaa, se detail-detailnya, semua syarat yang tertulis harus diikuti jangan ada yg tertinggal, karena kalau ada yang tertinggal, sesampainya di kedutaannya akan percuma, kalian akan diusir. Jadi namanya di kedutaan itu peraturan sangat ketat, sulit untuk mendapatkan toleransi. Usahakan daftar secepatnya dan bikin appointment disitu, kemudian kalian bisa datang ke kedutaan dengan membawa semua syarat pada hari dan tanggal yang sesuai dengan appointment kalian, karena kalau tidak sesuai dengan hari dan tanggal appointment kalian juga akan diusir. Jangan lupa registration form nya di print, karena disitu akan ada barcode yang merupakan kunci kalian untuk bisa masuk kedalam kedutaan.

Setelah dipelajari apa saja syarat visanya dan sudah registrasi, yg tentunya bikin appointment nya harus dipertimbangkan kapan kalian bisa kesana, dan pastikan saat appointment semua syarat sudah beres dan tinggal dibawa ke kedutaan. Karena untuk persiapan syaratnya menurutku lumayan memakan waktu, so kalian harus pertimbangkan benar-benar hal itu. Terus syaratnya akan saya bahas satu per satu yaa...

1. Formulir Permohonan Visa
Jadi ini adalah registration form setelah kalian ngisih semua data dan bikin appointment, formulir permohonan akan otomatis dapat jika registrasi kalian benar, karena registration form itu akan dikirim melalui email kalian. Kemudian print ya jangan lupa serta bubuhkan foto di kanan atas.

2. Passport yang harus memenuhi kriteria
Tentunya sebelum memikirkan visa, kalian harus sudah punya passport. Jadi saran saya, sebelum kalian punya target ingin pergi keluar negeri mulailah bikin passport, walaupun pada saat itu belum negara tujuan. Karena dengan passport kalian akan termotivasi untuk mengisi lembaran-lembaran kosong di passport dengan cap berbagai negara. Selain itu mungkin dengan banyaknya pengalaman kalian pergi ke negara lain atau apalagi ada riwayat pergi ke eropa sebelumnya, maka itu akan lebih mempermudah permohonan visa kalian. Untuk syarat passport bisa di pelajari sendiri ya di link yang sudah kukirim diatas.

3. Asuransi kesehatan dan perjalanan
Asuransi ini berbeda dengan asuransi kesehatan pada umumnya seperti askes, BPJS, dll. Asuransi yang dimaksud disini adalah asuransi perjalanan selama di Eropa. Contoh asuransi nya ialah Zurich, AXA, AIG, dan banyak lagi. Saya sendiri kemarin menggunakan asuransi Zurich, karena di jogja kebetulan itu yang paling dekat. Untuk biaya asuransi ini tergantung dari lamanya kamu di eropa, karena ketika menambah hari maka biayanya juga akan bertambah. Asuransi saya kemarin berlaku selama kurang lebih 8 hari itu seharga Rp. 370.000,00 per orangnya. Karena nanti disana akan ada pilihan harga dan tentunya akan menentukan fasilitas yang didapat.

4. Foto
Foto untuk persayaratan visa juga tidak sembarangan, foto dengan background putih ukuran 3,5 x 4,5 cm dan focus pada wajah, yaitu sekitar 80% dari pas foto.

5. Biaya Visa
Untuk biaya visa biasanya berubah-ubah tergantung waktunya, saat saya menulis ini biaya visa di kedutaan Polandia ialah Rp. 900.000,00. Pembayaran menggunakan uang rupiah.

6. Data tambahan:
a.    Bukti Finansial
                                          i.    Surat keterangan mahasiswa
Mintalah sura keterangan mahasiwa dari universitas kamu yang ditandatangani oleh rektor atau direktur bidang kemahasiswaan, atau boleh dari dekkan,yang penting surat keterangan mahasiwa. Lebih baik sediakan yang berbahasa Indonesia dan yang berbahasa inggris. Tapi pengalaman saya sendiri kemarin cukup berbahasa Indonesia tidak masalah.

                                        ii.    Fotokopi tabungan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir
Print saja rekening koran dalam jangka waktu sekitar 3 bulan terakhir, dan usahakan didalamnya ada saldo minimal. Kalo saya sendiri kemarin menyisakan saldo 25 juta rupiah untuk tabungan saya yang kemudian tercetak di rekening koran. Usahakan saldo tersebut bukan secara tiba-tiba masuk, karena itu bisa membuat orang kedutaan curiga. Jadi akan lebih baik misalnya berangsur-angsur masuk kedalam tabungan hingga mencapai saldo minimal. Tapi saldo minimal tidak ada ketentuan dari kedutaan, tapi asumsikan saja minimal 70 euro sehari, maka selanjutnya saldo minimal harus dihitung sesuai berapa lama kalian akan tinggal di eropa.

                                       iii.    KK, KTP, KTM, Akte Kelahiran
Kalau ini cukup fotokopiannya saja, karena semua dokumen yang masuk tidak akan kembali ke kita kecuali passport dan visa yang sudah ditempel didalam passportnya. Jadi semua berkas asli boleh dibawa tapi jangan dimasukkan, tunjukkan jika hanya diminta.

b.    Tiket Pesawat dan Rencana Perjalanan
Tiket pesawat disini boleh hanya berupa bookingan. Dan rencana perjalanan sebaiknya bikin sedetail mungkin, sehingga saat ditanya petugas kedutaan mengenai rencana perjalanan, kalian bisa menjawab dengan mantap. Karena pengalaman saya sendiri, saya ditanya mengapa memilih turun di belanda tapi membuat visa di kedutaan Polandia, sehingga jawaban-jawaban seperti itu harus disiapkan secara matang dan mantap ketika menjawab, karena itu bisa menentukan juga aplikasi kalian diterima atau tidak. Dibawah ini akan saya lampirkan contoh itinerary saya untuk persiapan visa ke eropa kemarin.
Visa Schengen ini berlaku hanya 90 hari sehingga itinerary ini juga untuk memastikan bahwa perjalanan kalian tidak melebihi 90 hari.

c.    Bukti tujuan perjalanan

Ini adalah bukti yang menunjukkan kenapa kalian harus pergi ke negara tersebut. Pengalaman saya pribadi, saya pergi ke Polandia tujuannya untuk mengikuti suatu perlombaan sehingga bukti yang saya berikan ialah LoA dari event tersebut.




contoh itinerary selama di eropa


Itinerary Europe
Period 20 June till 27 June 2017

My Identity:
Name              :
Passport no    :
Passport exp  :
Age                 :
Occupation    :
Day
Date
(June, 2017)
Time
(Local)
City, Country
Category
Description
1.
20
20.45 – 09.40
Jakarta (CGK) -Amsterdam (Schipol)
Flight by Turkish airlines
Jakarta – istanbul (20.45-04.55)
Istanbul – Amsterdam (07.05 - .9.40)
2.
21
10.00 – 17.00
Amsterdam, netherlands
arrived
Travelling on amsterdam


18.40 – 23.50
Amsterdam (schipol) – Katowice (Pyrzowice)
Flight by vueling airlines and wizz air
Amsterdam – London (Luton) (18.40 – 18.55)
London – Katowice (Pyrzowice) (20.35 – 23.50)


00.00-07.00
Katowice, Poland
Check in hotel
Rest
Hostel Katowice Centrum
At Ul. Andrzja 19, 40 – 061 Katowice, Poland

Prepare for competition
3.
22
08.00 – 19.30
Katowice, Poland
Competition
Katowice International Conference Centre


20.00-07.00
Katowice, Poland
rest
Hostel Katowice Centrum
At Ul. Andrzja 19, 40 – 061 Katowice, Poland
4.
23
08.00 – 19.30
Katowice, Poland
Competition
Katowice International Conference Centre


20.00-07.00
Katowice, Poland
Rest
Hostel Katowice Centrum
At Ul. Andrzja 19, 40 – 061 Katowice, Poland
5.
24
09.00 – 17.00
Katowice, Poland
Check out hotel
Hostel Katowice Centrum
At Ul. Andrzja 19, 40 – 061 Katowice, Poland

Travelling poland


18.40 – 10.10
Katowice (Pyrzowice) – Berlin (TXL)
Flight by Lufthansa cityline and swiss airlines
Katowice (Pyrzowice) – Frankfurt (FRA) (18.40 – 20.15)
Frankfurt – Zurich (Zurich airport) (06.40 – 07.35)
Zurich – Berlin (TXL) (08.50 – 10.10)
6.
25
10.30 – 15.00
Berlin, Germany
Arrived
Travelling on berlin


16.35 – 19.45
Berlin-Paris
Flight by air berlin and eurowings
Berlin – Dusseldorf (16.35 – 17.45)
Dusseldorf – paris (18.35 – 19.45)


20.00 – 06.00
Paris, France
Arrived,
Check in,
Rest
Hotel Delarc
7 rue Du Colisee 8th arr, 75008 Paris, France
7.
26
06.00 – 13.00
Paris , France
Check out
Hotel Delarc
7 rue Du Colisee 8th arr, 75008 Paris, France

Travelling on Paris


14.49 – 08.25
Paris -> amsterdam
Flight by 2C airlines and HOP airlines
Paris – Nantes ( 14.49 – 17.55)
Nantes – Amsterdam (schipol airport) ( 06.50 – 08.25)
8.
27
09.00 – 10.00
Amsterdam, Netherlands
Arrived on Amsterdam, schipol airport



11.10 – 18.00
Amsterdam à Jakarta
Flight by Turkish Airlines
Amsterdam – Istanbul (11.10 – 15.40)
Istanbul – Jakarta (02.10 -18.00)

28
18.00
Jakarta, Indonesia
Arrived


Destination place each country
Amsterdam    : keukenhoff, rijiksmuseum, Amsterdam university
Poland            : medical university of Silesia
Berlin             : bredenburg gate
Paris               : Eiffel tower, louvre pyramids, arc de thrompe, point neuf


Untuk mengurus visa schengen di kedutaan Polandia membutuhkan waktu minimal 15 hari. pengalaman saya sendiri waktu itu, mengurus visa sebulan sebelum keberangkatan, tapi ternyata pergi pertama kami di usir dan rasanya itu :((
Mengapa diusir? karena saat itu kami tidak membawa formulir permohonan visa, jadi jelas untuk masuk saja kami tidak dibolehkan. pertama kali pergi itu kami tidak mengetahui tentang persyaratan yang seharusnya, karena saat itu kami hanya mengikuti panitia perlombaan kami cabang Indonesia yang menurut kami mereka sudah profesional dalam mengurusi hal-hal seperti ini. sehingga kami tidak lagi mengecek ke lain untuk memastikan syarat-syarat yang harus kami bawa. 
ternyata sesampainya disana, masih sangat banyak syarat yang kurang seperti rekening korang yang belum sampai saldo minimal, asuransi perjalanan yang benar, foto yang belum sesuai aturan, dan lain lain

Bagi kami yang merupakan seorang mahasiswa, dimana sudah sangat sulit menemukan waktu yang pas agar bisa mengorbankan waktu kuliah, tutorial tapi tetap tidak mengorbankan nilai, dengan budget kami yang lagi-lagi harus terbuang karena harus pergi lagi ke Jakarta untuk mengurus visa yang gagal kemarin itu merupakan tamparan keras, sehingga saat pulang dari Jakarta kami langsung membuat strategi dengan melengkapi seluruh persyaratan visa dan itu cukup membuat panik karena appointment yang tiba-tiba penuh sampai di hari yang sangat dekat dengan hari keberangkatan kami. Akhirnya memang kami kembali ke Jakarta untuk mengurus visa lagi ialah kurang dari 2 minggu dari hari keberangkatan dan itu artinya kami terancam tidak jadi berangkat karena visa yang belum jadi, padahal waktu perlombaanya hanya tinggal seminggu lebih. Jadi usaha kami ialah dengan sering memfollow up kedutaan serta meminta bantuan follow up dari panitia cabang Indonesia. Dan Alhamdulillah kurang lebih seminggu visa kami jadi dan pengambilan visa harus kita lansung datang ke kedutaan, ya dan lagi-lagi kami harus kembali ke Jakarta untuk mengambil visa.


Pertanyaan lainnya ialah apakah pembuatan visa bisa di wakilkan? Jawabannya tidak, karena saat sampai di kedutaan akan ada sedikit interview dan sidik jari sehingga harus applicant langsung yang datang kesana.

okee, sekian tulisan saya ini semoga dapat membantu kalian-kalian yang lagi membutuhkan referensi mengenai persiapan visa schengen. Karena tulisan ini juga merupakan janji saya saat saat perjuangan untuk mendapatkan visa, dan saat itu saya dan teman saya berjanji pada diri sendiri setelah ini saya juga akan menuliskan tentang pengalaman ini, why? karena yang saya rasakan ialah informasi seperti ini sangaat berguna dalam menentukan pilihan, dan saya ingin berbagi sedikit untuk memberi manfaat ke orang lain.

Intinya saat mulai lelah, ingatlah kembali ke niat awal, dan niatkan untuk Allah, percaya selalu ada Allah, percaya akan selalu ada pertolongan Allah, jadi tugas kita hanya berusaha sampai titik penghabisan, dan lihatlah keajaiban itu datang. Akhirnya hikmahnya cobaan cobaan tersebut malah akan membuat kita lebih dekat dengan Allah, karena nikmat akan jauh terasa lebih nikmat jika datangnya disaat kita sedang benar-benar membutuhkan itu. 

warsawa :)

24 Juni 2017 Pagi ini kami telah sampai di kota yang berbeda, yaa kami sampai di warsawa, ibukota Polandia. Kedatangan kami di jemput ...