Qatar-Berlin-Katowice, Poland
Shubuhnya aku sampai di bandara
Qatar, seketika ku buka Hp banyak banget notif yang masuk. Dan tadaa, ku lihat
satu per satu chat, diantaranya keluargaku dan kedua temanku itu :”). Keluargaku sangat khawatir denganku, sampai mamaku meminta aku memfoto semua
identitasku, passport, visa, tiket, dan semuanya agar jika terjadi apa-apa
mereka bisa dengan mudah melacak keberadaanku. Setelah proses imigrasi aku langsung
melakukan semua yang diminta oleh orang tuaku itu. Chat berikutnya adalah dari
Ida, isinya kira2 intinya “mba razty alhamdulillah kita berdua berangkat pake
Turkish airlines, nanti kita ketemu di Poland ya mba. Sampe di Berlin mba nanti
dijemput sama mas x (salah satu anggota PPI Polandia). Semua sudah diurusin
sama kakak2 PPI, mba razty tenang aja”. Seketika itu semua kekhawatiranku
hilang, aku baru merasakan nikmatnya perjalanan setelah mendengar kabar itu.
Sebenarnya aku membaca chat tersebut ketika masih dari bus menuju bandara di
Qatar sih hehe. Setelah itu baru aku bisa foto-foto dengan tenang, menikmati
tripku, fokus belajar untuk persiapan presentasi nanti, dan hatiku benar2
tenang.
Kurang lebih 2 jam di Bandara Qatar selanjutnya aku melanjutkan
perjalanan menuju berlin. Itu adalah pertama kalinya aku pergi sendiri,
akhirnya untuk menghilangkan kebosanan, aku mengajak ngobrol salah satu
penumpang berasal dari Jerman. Awalnya aku hanya meminta tolong kepadanya untuk
memfotokanku, namun setelah itu kami berkenalan dan saling bercerita tentang
pengalaman kami. Aku senang, karena aku merasa aku bisa menikmati obrolanku
Bersama orang asing yang awalnya ku fikir akan sulit bagiku mencerna
pembicaraan itu. Waktu boarding pass pun tiba, kami terus berjalan Bersama
hingga sampai di pintu pesawat, dan akhirnya kami terpisahkan karena lokasi
seat yang jauh berbeda. Aku menuju seat ku dan ternyata aku duduk dengan anak
usia sekitar 7 tahunan berasal dari Iraq yang pergi Bersama keluarganya. Mereka
juga memiliki kesulitan dalam berkomunikasi Bahasa inggris, sehingga tidak
banyak obrolan antara aku dengan anak tersebut. Namun anak itu begitu lucu,
ganteng, dan seru walaupun kita berkomunikasi hanya menggunakan isyarat. Sesekali
ibunya melihat kepadaku dan tersenyum, dan ada beberapa obrolan pendek antara
aku dengan ibunya. Bahkan ia menitipkan anaknya kepada ku sebentar sembari ia
pergi ke toilet. 6 jam berlalu, dan alhamdulillah aku sampai di Eropa tepatnya
Berlin, Germany.
Bayanganku, bandara di berlin akan seperti di Qatar, Dubai,
ataupun lainnya yang sangat bagus. Tapi ternyata aku sempat kaget dengan
keadaan bandara disana, karena menurutku bandaranya tergolong kecil dan
sederhana. Bahkan dibandingkan bandara Pontianak, menurutku masih bagusan
Pontianak. Tapi itu hanya menruutku secara fisik, mungkin dari segi teknologi
akan jauh berbeda hehe.
Aku turun dari pesawat kemudian
naik bus yang mengantarkanku ke bandara. Selama di bus aku bertemu dengan orang
Indonesia, seorang bapak, ibu, dan anaknya datang ke jerman untuk liburan dan
menemui anaknya yang sedang kuliah di Frankfurt. Betapa senangnya aku ketika
bertemu dengan sesame orang Indonesia, karena bagaimanapun Bahasa Indonesia
adalah Bahasa ternyaman yang aku pakai saat itu. Kami ngobrol Panjang yang
ternyata anak dari bapak itu tidak menjemputnya di Bandara sehingga ia dan keluarganya
sedikiti kebingungan untuk mencari tempat tinggal anaknya. Akhirnya aku
mengatakan bahwa aku dijemput oleh kakak PPI, dan kemudian bapak itu mengikuti
kami dan ia juga dibantu oleh kakak PPI tersebut agar bisa sampai pada lokasi
tempat anaknya tinggal.
Begitu sampai di bandara Berlin, aku
langsung menyambungkan hp ku wifi, dan ternyata mas ppi nya sudah nge whats app
dulu, dan mengatakan kalau ia sudah di bandara dan ia akan menunggu saya depan
pintu terminal. Hatiku melonjak senang dan tenang karena berarti aku tidak
seperti anak terlantar yang kehilangan arah :’). Saat itu aku keluar pintu dan
langsung mencari orang dengan berwajah Indonesia dan berbaju merah. Yaa aku
ketemu, ia langsung menyambut hangat dan ia menawarkan makan terlebih dahulu
karena ia tau perjalanan panjangku pasti sangat melelahkan. Namun aku menolak
karena pada saat itu aku sedang berpuasa. Puasa di eropa memang benar-benar
diuji kesabarannya karena kita berpuasa 18 jam, dengan posisi sahurku yang
tidak menentu dan entahlah aku juga tidak mengerti membuatku saat itu memang
merasa sangat lapar. Namun aku berusaha untuk kuat, karena bagaimanapun aku
bisa sampai di tempat itu atas izin Allah, dan aku tidak ingin mengecewakan
Allah hanya karena kelaparan dan kelelahan sedikit aku harus membatalkan puasa.
Sebenarnya perjalananku belum selesai, karena tujuan utamaku adalah Katowice,
Polandia. Jadi setelah sampai di berlin aku langsung diajak ke dorm kakak nya
untuk istirahat dan sholat kemudian aku langsung diantar kembali ke terminal
bus yang saat itu aku menggunakan Polsky bus. Jujur, aku sangat tersentuh akan
kebaikkan kakak tersebut, ia meminjamkan kami rice cooker untuk perlombaan
kami, dan ia meminjamkan kartunya untuk kami gunakan selama di eropa, sehingga
kami tidak harus mencari2 wifi dulu untuk bisa mendapatkan internet. Aku gatau
mau bilang makasih nya kayak gimana lagi, karena itu benar-benar menyelamatkan
hidup kami disana. Setelah kakak itu mengantarkan aku ke terminal, aku menunggu
kedatangan bus nya, yang tentunya sudah secara jelas di jelaskan bagaimana
cara-caranya oleh kakaknya, dan untuk tiketnya sudah dibelikan oleh kakak PPI
Poland yang lain hingga penginapan di Polandianya.
Sembari menunggu, aku bermain hp
dengan rice cooker yang ku letakkan di sampingku. Hingga tiba-tiba ada seorang
laki-laki yang mengajakku mengobrol hingga meminta kontakku sebagai tambahan
kenalannya. Laki-laki itu sangat tertarik dengan rice cooker ku, ia terlihat
sangat antusias bertanya-taya tentang rice cooker untuk apa, dan dia mengatakan
pernah makan nasi dan ia sangat menyukainya, ia juga begitu penasaran bagaimana
cara memasak nasi dengan benar. Setelah beberapa lama kami mengobrol, tibalah bus
ku melintas didepan dan aku segera berpamitan dengan laki-laki itu. Orang tersebut
sangat mendukungku dalam perlombaan, dan ia selalu mengatakan jika setelah
lomba selesai kami di ajak untuk liburan ke rumahnya yang kebetulan juga berada
di Polandia namun berbeda kota.
Aku terus berjalan menuju bus
itu, kemudian mencari dimana lokasi tempat dudukku. 6 jam perjalanan yang menurutku
melelahkan. Bus itu memang sangat nyaman, bus dengan 2 lantai itu memiliki
fasilitas wifi, ac, kabin, kursi yang empuk, namun aku merasa sangat Lelah tapi
khawatir jika tertidur. Karena jika tertidur, bisa-bisa aku melewati kota yang
ku tuju. Tapi alhamdulillah qadrullah setiap kali ak tertidur, aku selalu
terbangun saat bus tersebut sampai di kota tujuanku. Aku sampai di kota
tujuanku pada dini hari, yang mana cuaca pada saat itu sangat dingin karena
musim peralihan dari summer ke autumn sedangkan aku tidak membawa jaket sama
sekali karena tertinggal saat buru-baru pergi menuju bandara jogja. Bermodalkan
kartu yang ada internetnya, aku mencari hotel yang sudah dipesankan untukku di Katowice.
Hembusan angin malam memang terasa sangat dingin, namun karena hatiku yang
berdebar-debar karena saat itu sendiri, malam-malam sepi aku hanya berjalan sendiri
mencari dan mengikuti arah google maps. Karena saat itu satu2nya yang bisa ku
percaya hanya google maps di hp ku, aku mondar mandir sekitar setengah jam dan
akhirnya menemukan hotel itu yang ternyata lokasinya tidaklah jauh dari tempat
pemberhentian bus tadi. Sesampainya di hotel, pintunya tertutup. Dalam beberapa
menit aku cukup bingung bagaimana mengoprasikan kode2 yang ada didepan hotel
tersebut agar bisa terbuka. Sebelumnya memang dari pihak hotel telah mengirim
sms kepadaku tentang bagaimana cara masuk hotel, karena kedatanganku diluar jam
kerja sehingga mereka hanya bisa memberikan cara melalui Tulisan di sms itu. Beberapa
saat kemudian seorang laki-laki datang menghampiriku dan bertanya bagaimana
cara masuk hotel ini, dan alhamdulillah saat itu aku menemukan caranya dari sms
pihak hotel sebelumnya.
Kemudian aku masuk kedalam dan
terus mencari lantai kamarku, namun beberapa kali aku terhalang kembali dan agak
kesulitan untuk bisa masuk kedalam kamar. Sekitar 2 jam aku menunggu dan sempat
berfikir aku hanya menunggu di tangga sembari menunggu hotel buka kembali. Tapi
dalam beberapa menit aku masih ingin mencoba kembali untuk membuka pintu, dan
alhamdulillah ternyata bisa terbuka. Aku menuju kamar dengan perasaan tenang
dan lega, kemudian aku sholat serta sahur sebisa ku dengan bekal yang sudah ku
bawa dari Indonesia yaitu nasi popaye dan kue2 yang telah kukumpulkan selama di
pesawat. Setelah itu pun aku tertidur, dengan 4 orang lainnya dalam kamar
tersebut.










Wah selamat ya kak , btw kakak ikut lomba bidang apa ya ?
BalasHapus