19 Juni 2017
Joja - Kuala Lumpur
Joja - Kuala Lumpur
Alhamdulillah hari ini kami mulai
perjalanan kami, setelah beberapa rintangan terlewati dan hari ini telah tiba. Aku
berfikir kalau setelah in hanya sedikit rintangan yang akan dilewati, Aku
merasa kami sudah pasti berangkat, dengan pegangan tiket masing-masing dari
kami, dan Aku yakin semua akan berjalan mulus. Sekitar pukul 5 sore, kami
berangkat dari Jogja menuju ke Kuala Lumpur. Sampai di KL kami masih mempunyai
waktu banyak, karena keberangkatan dari KL menuju Qatar masih pada jam 2 dini
hari. Sehingga kami menghabiskan waktu untuk sholat, foto-foto, makan, dengan
santainya. Sekitar jam 11 kami sudah mulai menunggu di ruangan check in,
harapannya ketika check in di buka kami bisa langsung check in dan bisa tenang
untuk semua urusannya. Sambil menunggu bukanya check in, kami sambil
berfoto-foto. Sekitar pukul 12.00, hal yang terduga datang menimpa kami. Ida
menerima email bahwa tiket yang telah dibeli kemarin di tolak sepihak.
“Sedikit cerita tentang proses
pembelian tiket kami. Kami membeli tiket pada h-3 keberangkatan, dimulai dari
siang-sore hari. Namun ternyata pembelian tiket harus menggunakan credit card. Beberapa travelling agent
kami coba, namun ternyata hampir semua sama yaitu harus menggunakan credit
card. Akhirnya Aku menelfon keluarga Aku yang saat itu memiliki credit card,
namun ternyata tidak bisa karena limitnya kurang. Kami berusaha menghubungi
semua teman yang memungkinkan, namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya Aku
menemukan travelling agent nusatrip yang bisa menggunakan ATM Indonesia dalam
transaksi pembayaran. Tapi pembayaran hanya bisa dilakukan dalam 1 jam,
sedangkan ATM Aku mempunyai limit hanya 5juta untuk transfer dalam sehari,
sedangkan harga tiket sekitar 11 juta. Awalnya Aku yang kebagian untuk membeli
tiket semua anggota kelompok, namun karena terkendala limit itu akhirnya Aku
memutuskan untuk membeli 1 tiket terlebih dahulu baru membeli tiket teman Aku
yang lain. Aku pun kemudian membayar tiket tersebut, dengan perasaan tegang dan
cemas karena jika dalam 1 jam tidak terbayar lunas maka tiket tidak akan
terbeli dan uang yang telah dibayarkan akan hangus. Solusinya saat itu Aku
menggunakan ATM Aku, ATM abang Aku, dan ATM orang tua Aku. Aku sangat bersyukur
mempunyai keluarga yang begitu mendukung, entah bagaimana lagi Aku harus
berterimakasih kepada mereka dengan pengorbanan uang tenaga dan fikiran yang
mereka lakukan untuk Aku. Singkat cerita, alhamdulillah 1 tiket terbeli, dan
kemudian tinggal memikirkan 2 tiket yang lainnya. Dalam jangka kurang lebih 2
jam, tiba2 terdengar notification dari travelling agent tersebut dan mengatakan
transaksi Aku tidak berhasil. Terus Aku berfikir, lantas gimana dengan uang
yang telah Aku bayarkan tersebut. Karena ternyata harga tiket naik, dan Aku
harus membayarkan uang tambahan sekitar 2 juta lagi, atau kalau mau di cancel
uangnya akan kembali seminggu kemudian. Fikiranku yang awalnya sudah mulai
tenang kemudian memuncak lagi, Aku kembali panik sampai akhirnya Lelah untuk
memikirkan hal tersebut. Keputusan akhirnya Aku menambah uang 2 juta tersebut
karena untuk mendapatkan uang talangan yang lain sebelum uang sebelumnya
dikembalikan menurut kami lebih sulit. Setelah Aku bayarkan alhamdulillah 1
tiket selesai dan e-ticket pun tercetak. Keesokkan harinya kami masih berfikir
bagaimana cara membeli 2 tiket yang lain, karena 1 tiket saja sudah banyak
menguras tenaga. Sekitar pukul 8 pagi, akhirnya ida mendapatkan pinjaman credit
card melalui temannya. Yang akhirnya kami bisa membeli tiket untuk 2 orang
lainnya. Setelah e-ticket keluar kami benar-benar merasa lega, tenang, dan
hanya tinggal memikirkan persiapan keberangkatan.”
Setelah notification itu masuk,
kami bertiga panik. Karena untuk menghubungi pihak travelling agent, kami
posisinya sudah berada di Malaysia, sehingga kartu hp kami tidak berfungsi.
Kami langsung menghampiri penjual nomor telfon di Malaysia untuk membeli kartu.
Tapi alhamdulillah orang tersebut sangat baik, ia meminjamkan hp nya kepada
kami dan pulsanya untuk menelfon nomor tersebut. Bahkan orang tersebut terus
terlibat hingga masalah kami selesai. orang terseut dengan sepenuh hati
membantu kami, berusaha mencarikan temannya yang punya ATM, membantu mencarikan
solusi untuk membeli tiket baru, dan lain sebagainya. Berbagai usaha telah kami
fikirkan, mulai dari mencari pinjaman uang untuk membeli tiket baru, meminjam
ATM orang Malaysia untuk megambil uangnya, bernegosiasi dengan pihak travelling
agent tersebut, dan banyaak lainnya. Namun hasilnya nihil juga, tidak ada yang
berani meminjamkan uang sebesar itu, yaitu sekitar 24 juta untuk membeli 2
tiket baru. Sampai Aku pun berfikir apakah kepergian kami ini bukan lah hal
yang di ridhoi Allah, karena sejak awal begitu banyak hambatan yang lalui.
Sampai di titik sekarang pun, yang menurutku awalnya akan berjalan mulus karena
tiket sudah ditangan tapi ternyata muncul masalah sebesar ini. Uang yang telah
dibayarkan ke travelling agent akan kembali 2 minggu setelah ini. Bagaimana
tidak panik, uang telah melayang, tiket belum dapat, hanya Aku sendiri yang
tidak bermasalah tiketnya pada saat itu, dan perjuangan, pengorbanan, serta
uang yang telah kami keluarkan hingga titik ini sudah terlalu banyak. Hanya
tinggal selangkah lagi, tapi kenapa masih adalah rintangan. Sempat terfikiran
olehku apakah lebih baik kami pulang saja, dan batal untuk mengikuti lomba ini.
Karena fikirku aku telalu egois jika hanya berangkat sendiri, dan aku juga
berfikir bagaimana nasibku sendiri di negara orang yang sangat jauh seperti itu
jika tanpa mereka. Aku pun menelfon orang tua, dan orang tuaku juga sangat
khawatir serta menyuruhku untuk balik saja ke Indonesia. Hati Aku masih
berkecamuk, antara balik Indonesia dan membiarkan semua usaha dan perjuangan
kami gagal begitu saja atau melanjutkan perjalanan yang belum tau bagaimana
nasibnya, belum tau apakah kedua temanku yang lain bisa berangkat atau tidak,
dan belum tau bagaimana kalau aku membawa nama Indonesia dengan modal sendiri,
sedangkan alat yang kami bawa sangat berat yaitu sekitar 11 Kg, sehingga sangat
membutuhkan tenaga cowo untuk membantu membawa alat ini.
Waktu terus berjalan,
waktu check in pun telah terbuka, namun kami masih dalam keadaan sulit seperti
itu. Aku pada saat itu akhirnya berfikir untuk mencari aman terlebih dahulu,
yaitu mencheck in kan barang2 Aku ke bagasi dan kemudian melanjutkan pencarian
solusi tadi lagi. Rauf mendapatkan informasi bahwa temannya bisa membantu
membelikan tiket baru, namun itu juga belum pasti. Aku pun menelfon orang tua
kembali dan meminta restu untuk berangkat karena masih ada kemungkinan kedua
temanku bisa ikut walaupun menyusul. Dengan berat akhirnya kedua orang tuaku
memberikan izin tersebut. Tapi hatiku masih sangat bimbang, karena bagaimanapun
sebenarnya belum ada kepastian dari kedua temanku apakah benar bisa berangkat
atau tidak. Hal lain yang Aku fikirkan ialah apakah bisa Aku seorang diri tanpa
teman diskusi melanjutkan perjalanan ini,bagaimana situasi disana, bagaimana
keadaannya, bagaimana orang-orangnya, dan apakah Aku bisa berkomunikasi dengan
modal Bahasa inggris yang seperti ini. Pada 15 menit terakhir check ini, aku
kembali menemui petugas di bagian check in dan menanyakan apakah tas yang sudah
Aku masukkan ke bagasi bisa Aku ambil kembali? Kira2 percakapan Aku dengannya
seperti ini:
S: Aku tidak jadi berangkat
P: Kenapa?
S: Karena kedua teman Aku tidak
jadi berangkat, apakah masih bisa Aku minta kembali bagasi Aku?
P: Ya, tapi apakah kamu
benar-benar ingin berangkat?
S: Aku sangat ingin, tapi apakah
waktu 10 menit ini Aku masih bisa mengejar pesawat itu dengan posisi Aku masih
dsini?
P: jika kamu memang benar-benar
ingin berangkat, Aku akan hubungi pihak pesawat untuk menunggu. Tapi kamu harus
berlari mulai dari sekarang.
S: Aku bingung pak, tapi
bismillah ya Aku akan berlari kesana. Tolong bantu untuk menghubungi ya pak,
terimakasih
Pada 10 menit terakhir check in
akhirnya kami bertiga memutuskan “YA”, Aku harus berangkat. Entah apa ya
membuat kami yakin hal itu dengan semua ketidakpastian yang ada, fikirku
hanyalah Allah tidak akan membiarkan hambanya menderita, Ia hanya ingin melihat
hambanya berusaha sampai titik penghabisan terlebih dahulu. Aku hanya
mengatakan kepada mereka “Bismillah aku berangkat, dan aku percaya kalian pasti
bisa nyusul, insyaallah kita ketemu di Eropa ya”. Karena kalau di logika aku
juga tidak habis fikir bagaimana aku bisa yakin bahwa mereka bisa menyusul,
tapi aku sangat percaya pasti ada pertolongan Allah dan pasti mereka bisa
menemukan bagaimana caranya. Aku berpamitan kepada mereka dan hanya modal
percaya dan yakin bahwa mereka bisa menyusul, kemudian aku berlari sebisaku.
Aku berlari dan terus berlari,
sampai aku merasakan perut kanan ku kembali sakit karena berlari itu, dan
seluruh petugas bandara tau bahwa aku adalah penumpang terakhir dan dengan
mudahkan mereka membantuku melewati seluruh proses imigarasi dan seleksi
lainnya. Aku hanya disuruh berlari segera sebelum pesawat take off. Singkat
cerita, aku sampai didepan pintu pesawat dan disambut oleh pramugari cantik
berhidung mancung, dan menyambutku dengan seyuman. Ia kemudian mengarahkan aku
ketempat dudukku. Harusnya aku merasa sangat senang, karena bisa merasakan
kemewahan pesawat Qatar airways, yang menurutku luar biasa. Namun hatiku tidak
bisa melepaskan kesenangan itu karena masih terus menyisakan perasaan
khawatirku. Bagaimana keadaan mereka berdua, apakah mereka bisa menyusul,
bagaimana nasibku sesampainya di Jerman, karena kontak PPI hanya ada di Ida. Ya
terlalu banyak kekhawatiran yang berlalu lintas di fikiranku, yang membuat
perjalananku tidak begitu menyenangkan. 8 jam didalam pesawat mewah seperti itu
memag tidak begitu terasa, dengan fasilitas tv, selimut, music, game, berita,
makan dan minum yang tidak berhenti datang kepada seluruh penumpang, dan
fasilitas wifi yang memungkinkan aku memberi kabar ke keluargaku. Saat itu
bulan Ramadhan, sehingga aku bingung, bingung kapan waktu sahur dan imsak,
karena perbedaan waktu yang membingungkan itu.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar