Hari 1 Katowice, Polandia (21
Juni 2017)
Aku terbangun sekitar pukul 08.00
waktu eropa. Ku lihat sekitar ternyata sudah ada beberapa orang yang terbangun
dan kami membangun obrolan sebentar sembari bersiap2. Kamar kami tersedia 1 kamar mandi dan 1 toilet
serta dapur yang menurutku nyaman, ada balkon di belakang dimana kita bisa
merasakan sensasi bangunan eropa yang klasik, serta cuaca malam yang dapat
menghiburku menikmati suasana saat itu. Aku mulai merapikan barang2ku di lemari
agar terlihat rapi, ku setrika baju yang akan ku gunakan saat itu, ku gantungi
baju yang belum begitu kotor, kemudian mandi dan bersih-bersih. Saya kurang
senang toilet di eropa, karena disana tidak menggunakan air untuk bersih2 setelah
buang air, tapi hanya menggunakan tissue. Aku kurang nyaman, sehingga ku
gunakan gelas yang sebelumnya ku tampung air terlebih dahulu agar menyamakan
dengan toilet di Indonesia.
Setelah siap, aku mulai berpetualang sendiri karena
di hari itu aku masih sendiri di eropa sedangkan kedua temanku menyusul datang
di esok hari dengan jam kedatangan yang persis sama seperti aku tadi malam
yaitu sekitar pukul 02.20 a.m. Aku mulai mengenali lingkungan sekitar untuk
persiapan beberapa hari kedepannya. Mulai dari menikmati dan memaknai bangunan2
disana, sekedar berfoto2 tempat di sekitar hotel, kemudian ku cari tempat
penukaran uang dollar ke zlotty, mencari lokasi lomba, menghafal jalan sekitar,
mengingat tepat pemberhentian bus tadi malam agar aku bisa menjemput kedua
temanku nanti malam, dan menikmati suasana di polandia saat itu. Aku sedikit
kesulitan mengenai komunikasi disana, karena sebagian besar penduduk polandia
tidak bisa berbahasa inggris, untungnya aku selalu diawasi oleh kakak2 PPI,
yang mana mereka membantuku bagaimana Bahasa polandia, ya walaupun hanya sekedar
salam disana bagaimana, kemudian bagaimana mencari tempat penukaran uang, dan
bagaimana Bahasa untuk mengatakan jika saya ingin menukarkan uang. Perlahan ku
perhatikan sekitarku untuk mencari tempat tersebut, dan ternyata tempat
terdekat ialah benar2 disamping hotelku. Aku masuk ke ruangan kecil itu dan
mencoba berlatih Bahasa Poland itu serta mengaplikasikannya saat berkomunikasi dengan
orang, yang kira2 seperti ini, “dzien dobry (selamat pagi) “, ” czy pan mowic
po angielsku? (apakah mr bisa ngomong inggris?)”. orang tersebut malah tertawa
saat ku mencoba Bahasa tersebut, hehe mungkin logatku benar2 aneh. Kemudian ia
menjawab yes I can. Selanjutnya aku berkomunikasi dengan Bahasa inggris. Setelah
itu aku mencoba menikmati pasar pagi di sekiar hotel, mulai dari tas2 kecil,
sepatu, baju dan lain2 banyak dijual, namun aku sulit untuk menanyakannya lebih
lanjut, selain karena aku tidak berminat karena harga yang sangat mahal itu,
mereka juga jarang yang bisa Bahasa inggris.
Selanjutnya aku pun mulai mencari
lokasi lombaku, berbekal kartu hp yang sudah diisi internetnya aku benar2
berpasrah pada google maps dan terus mengikuti alurnya sambil menghafalkan
jalan menuju kesana alone travelling memang asik, aku bisa sesuka hati untuk
berjalan, berhenti dan menikmati suasana, berhenti untuk berfoto2 serta memfoto
bangunan2 klasik yang aku lewati. Aku bebas mau pergi kemana saja tanpa
khawatir ada yang merasa tidak nyaman, tapi disatu sisi juga aku tidak nyaman karena
sulit mengabadikan momen itu karena tidak ada yang bisa fotoin aku, Cuma selfie2
doang jadinya huhu. Suasana disana nyaman, tidak begitu panas dan tidak begitu
dingin, orang2 disana menurutku individualis, tidak seperti di Indonesia dimana
setiap kita lewat mau kenal ataupun tidak kita saling sapa, saling senyum. Namun
disana tidak sama sekali, orang sibuk dengan masing2 tujuannya, berjalan begitu
cepat, tertib, dan teratur. Aku kagum dengan kedisplinan disana, orang2 disana
seperti menganggap waktu sangat berharga, terlihat dari cepat dan tangkasnya
mereka berjalan. Kemudian saat ada lampu merah, semua yang berjalan jika memang
masih lampu merah maka tidak ada satupun yang melanggar, begitupun kendaraan. Wajar
saja ketika kita mendengar jarang sekali ada kecelakaan lalu lintas disana. Saat
lampu hijau untuk pejalan kaki pun kita harus sigap, harus cepat dalam berjalan,
karena waktu yang tersedia hanya sedikit sehingga jika kita berleha2 saat
berjalan bisa2 tertabrak oleh kendaraan yang lewat.
Aku sampai di lokasi pada siang hari,
bangunannya bagus unik, menentramkan karena kehijauannya, menawan di malam
hari, aku terkesima dengan keadaan saat itu. Aku mencoba masuk kedalam bagunan
itu, keadaannya ramai, ramai akan orang2 berjas hitam. Mungkin aku terlihat
kebingungan aku dihampiri oleh salah satu dari orang2 tersbut yang kemudian ia
bertanya apa yang sedang saya lakukan disini, dan apa yang bisa ia bantu. Aku menceritakan
tentang lomba, kemudian dengan baik hati ia mengantarkan aku ke lokasi dimana stand2
pameran sedang dipersiapkan. Ku coba cari satu per satu, dan akhirnya aku
menemukan stand Indonesia disana. Mungkin aku menghabiskan waktu cukup lama di Gedung
itu, untuk mengabari kedua orang tua ku bahwa aku disini baik2 saja, aku juga
mencoba mempelajari seluk beluk di Gedung itu agar tidak kelabakan saat sesi
lomba dimulai. Setelah cukup puas aku pun keluar, dan lalu duduk di suatu taman
untuk menikmati. Untuk pertama kalinya aku meminta tolong orang sekitar untuk mengambil
fotoku, karena aku benar2 ingin punya foto sendiri. Aku bersyukur selama disana
aku terus bertemu dengan orang baik. Setelah cukup lama menikmati, lalu datang
seorang bapak2 menghampiriku. Ia bertanya “apakah ini lokasi invention besok?”.
Aku menjawab dengan antusias, iya sir, ini tempatnya. Saya sudah masuk tadi,
apakah bapak juga peserta lomba besok? Oh bukan, saya diminta untuk menjadi
juri disini. Aku tertegun, aku juga berfikir ini kesempatanku untuk bisa berbicara
banyak dengannya sehingga besok saat lomba ia bisa lebih kenal dengan
kelompokku dan menaruh perhatian lebih. Ia pun kemudian masuk kedalam, dan ia
mengatakan kepadaku “saya masuk sebentar, tunggu disini ya, saya akan balik
lagi kesini”.
Saya terus duduk menikmati sambil menunggu bapak tersebut. Tidak lama
kemudian bapak itu kembali dan menghampiriku. Selanjutnya kami ngorol Panjang lebar,
mulai dari inovasi apa yang ku lombakan, hotel tempat tinggal dimana, asal negara
kami, berapa lama kami di eropa, pengalaman2nya selama kerja, tentang
pengalaman komunis yang saat itu menghantui keluarganya, sampai obrolan tentang
kritisi mengenai cara pembangunan bangunan yang baru sedang dibangun. Bapak tersebut
berasal dari Belgia, aslinya ia berasal dari Uni Soviyet yang kemudian mereka
sekeluarga pindah ke Belgia untuk mendapatkan ketenangan, bapak itu juga
seorang professor, ia menjabat dengan posisi tinggi di tempat kerjanya namun aku
lupa tepatnya dimana. Menurutku orang tersebut luar biasa baik, ramah, asik, seru,
rendah hati, karena kalau difikir aku awalnya merasa minder dengannya. Aku berasal
dari Indonesia, yang tentu semua orang tau kalau eropa jauh lebih maju dibandingkan
Indonesia, aku juga hanya mahasiswa, sedangkan ia seorang pejabat penting
ditempatnya. Di Poland, ia tinggal di hotel ternama mewah dan yang saya dengar
dari orang2 itu hotel terindah di kota itu, dengan harga yang sesuai tentunya,
sedangkan aku hanya tinggal di hotel murah denga nisi kamar banyak orang. Tapi bagaimana
ia memperlakukanku? Aku merasa tidak ada gap2 tersebut, ia menganggap kita
semua sama, tidak ada istilah lebih tinggi dan lebih rendah. Aku benar2 kagum,
tidak hanya pada orang itu tapi seluruh orang eropa yang ke temui disana, karena
disana aku diajarkan arti kesamaan dan tiada tingkatan derajat seseorang.
mereka tidak menuntut untuk di hormati, tapi dengan perlakuan mereka kita yang
akan segan, mereka membuat kita seperti layaknya teman sepermainan, bercanda
dan lain-lain. setelah beberapa lama, kami pun pulang. Awalnya ia menawarkan
untuk menggunakan taksi, karena saat ia pergi ke lokasi ini ia menggunakan
taksi, namun aku menoaknya, karena aku lebih memilih berjalan kaki yang tentu lebi
murah dan lebih mendapatkan pengalaman. Akhirnya ia mengikutiku berjalan kaki,
karena kebetulan hotel kami searah. Kami terus ngobrol dan bercanda, bahkan ia
sempat bilang gini “coba kamu lihat orang2 yang dari tadi berjalan, semua
memperhatikan kita, apa coba yang mereka fikirkan?”. Aku hanya jawab ya mungkin
ini teman, atau anak orang tua. Terus ia menjawab, ga mungkin kalo mereka
mengira kita adalah anak dan ayah, karena wajahmu asia dan saya barat. Tapi mungkin
mereka akan mengira kalau kita suami istri. “what” aku bingung sih dengan
perkataan itu dan sedikit tidak nyaman, tapi aku hanya berusaha tertawa akan
candaannya dan akhirnya daripada aku lebih tidak nyaman lagi aku memutuskan
untuk berbelok arah, aku mengatakan kepadanya bahwa hotelku kearah sana. Akhirnya
perjalanan kami sampai disitu dan kami berpisah.
Aku sampai di hotel di sore hari,
dan buru2 untuk sholat zhuhur dan ashar yang saat itu aku jamak. Sejujurnya aku
kurang nyaman untuk beribadah disana, kondisi disana yang menurutku sangat rasis,dimana
jika kita sedang sholat semua orang yang lewat akan memperhatikan kita. Saat ku
berjalan saja orang2 memperhatikanki, karena saat itu aku menggunakan jilbab
yang Panjang. Karena menggunakan jilbab saja sudah aneh, apalagi dengan ukuran
sebesar itu. Saat aku sholat di kamar pun teman2 lainnya memperhatikanku dan
bertanya banyak tentang islam kepadaku. Aku juga sempat merasakan mereka
sedikit memandan rendah Indonesia, dengan mengatakan harga barang2 di Indonesia
murah, aku bisa beli banyak disana dan kemudian menjualnya disini, ya dan lain
sebagainya. Tapi hanya satu orang yang mengatakan seperti itu, selebihnya
menurutku sangat baik, sangat cantik, ya semua orang di eropa menurutku sangat
ganteng dan cantik , bahkan hanya cleaning service pun begitu cantik dan bening. Aku tidur saat maghrib, yang disana maghribnya ialah jam 9.00 pm. Karena kelelahan dan kelaparan, akhirnya aku tertidur pulas sekali malam itu.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar