Sabtu, 10 Februari 2018

First Day in Poland


Hari 1 Katowice, Polandia (21 Juni 2017)
Aku terbangun sekitar pukul 08.00 waktu eropa. Ku lihat sekitar ternyata sudah ada beberapa orang yang terbangun dan kami membangun obrolan sebentar sembari bersiap2.  Kamar kami tersedia 1 kamar mandi dan 1 toilet serta dapur yang menurutku nyaman, ada balkon di belakang dimana kita bisa merasakan sensasi bangunan eropa yang klasik, serta cuaca malam yang dapat menghiburku menikmati suasana saat itu. Aku mulai merapikan barang2ku di lemari agar terlihat rapi, ku setrika baju yang akan ku gunakan saat itu, ku gantungi baju yang belum begitu kotor, kemudian mandi dan bersih-bersih. Saya kurang senang toilet di eropa, karena disana tidak menggunakan air untuk bersih2 setelah buang air, tapi hanya menggunakan tissue. Aku kurang nyaman, sehingga ku gunakan gelas yang sebelumnya ku tampung air terlebih dahulu agar menyamakan dengan toilet di Indonesia. 

Setelah siap, aku mulai berpetualang sendiri karena di hari itu aku masih sendiri di eropa sedangkan kedua temanku menyusul datang di esok hari dengan jam kedatangan yang persis sama seperti aku tadi malam yaitu sekitar pukul 02.20 a.m. Aku mulai mengenali lingkungan sekitar untuk persiapan beberapa hari kedepannya. Mulai dari menikmati dan memaknai bangunan2 disana, sekedar berfoto2 tempat di sekitar hotel, kemudian ku cari tempat penukaran uang dollar ke zlotty, mencari lokasi lomba, menghafal jalan sekitar, mengingat tepat pemberhentian bus tadi malam agar aku bisa menjemput kedua temanku nanti malam, dan menikmati suasana di polandia saat itu. Aku sedikit kesulitan mengenai komunikasi disana, karena sebagian besar penduduk polandia tidak bisa berbahasa inggris, untungnya aku selalu diawasi oleh kakak2 PPI, yang mana mereka membantuku bagaimana Bahasa polandia, ya walaupun hanya sekedar salam disana bagaimana, kemudian bagaimana mencari tempat penukaran uang, dan bagaimana Bahasa untuk mengatakan jika saya ingin menukarkan uang. Perlahan ku perhatikan sekitarku untuk mencari tempat tersebut, dan ternyata tempat terdekat ialah benar2 disamping hotelku. Aku masuk ke ruangan kecil itu dan mencoba berlatih Bahasa Poland itu serta mengaplikasikannya saat berkomunikasi dengan orang, yang kira2 seperti ini, “dzien dobry (selamat pagi) “, ” czy pan mowic po angielsku? (apakah mr bisa ngomong inggris?)”. orang tersebut malah tertawa saat ku mencoba Bahasa tersebut, hehe mungkin logatku benar2 aneh. Kemudian ia menjawab yes I can. Selanjutnya aku berkomunikasi dengan Bahasa inggris. Setelah itu aku mencoba menikmati pasar pagi di sekiar hotel, mulai dari tas2 kecil, sepatu, baju dan lain2 banyak dijual, namun aku sulit untuk menanyakannya lebih lanjut, selain karena aku tidak berminat karena harga yang sangat mahal itu, mereka juga jarang yang bisa Bahasa inggris. 

Selanjutnya aku pun mulai mencari lokasi lombaku, berbekal kartu hp yang sudah diisi internetnya aku benar2 berpasrah pada google maps dan terus mengikuti alurnya sambil menghafalkan jalan menuju kesana alone travelling memang asik, aku bisa sesuka hati untuk berjalan, berhenti dan menikmati suasana, berhenti untuk berfoto2 serta memfoto bangunan2 klasik yang aku lewati. Aku bebas mau pergi kemana saja tanpa khawatir ada yang merasa tidak nyaman, tapi disatu sisi juga aku tidak nyaman karena sulit mengabadikan momen itu karena tidak ada yang bisa fotoin aku, Cuma selfie2 doang jadinya huhu. Suasana disana nyaman, tidak begitu panas dan tidak begitu dingin, orang2 disana menurutku individualis, tidak seperti di Indonesia dimana setiap kita lewat mau kenal ataupun tidak kita saling sapa, saling senyum. Namun disana tidak sama sekali, orang sibuk dengan masing2 tujuannya, berjalan begitu cepat, tertib, dan teratur. Aku kagum dengan kedisplinan disana, orang2 disana seperti menganggap waktu sangat berharga, terlihat dari cepat dan tangkasnya mereka berjalan. Kemudian saat ada lampu merah, semua yang berjalan jika memang masih lampu merah maka tidak ada satupun yang melanggar, begitupun kendaraan. Wajar saja ketika kita mendengar jarang sekali ada kecelakaan lalu lintas disana. Saat lampu hijau untuk pejalan kaki pun kita harus sigap, harus cepat dalam berjalan, karena waktu yang tersedia hanya sedikit sehingga jika kita berleha2 saat berjalan bisa2 tertabrak oleh kendaraan yang lewat.

Aku sampai di lokasi pada siang hari, bangunannya bagus unik, menentramkan karena kehijauannya, menawan di malam hari, aku terkesima dengan keadaan saat itu. Aku mencoba masuk kedalam bagunan itu, keadaannya ramai, ramai akan orang2 berjas hitam. Mungkin aku terlihat kebingungan aku dihampiri oleh salah satu dari orang2 tersbut yang kemudian ia bertanya apa yang sedang saya lakukan disini, dan apa yang bisa ia bantu. Aku menceritakan tentang lomba, kemudian dengan baik hati ia mengantarkan aku ke lokasi dimana stand2 pameran sedang dipersiapkan. Ku coba cari satu per satu, dan akhirnya aku menemukan stand Indonesia disana. Mungkin aku menghabiskan waktu cukup lama di Gedung itu, untuk mengabari kedua orang tua ku bahwa aku disini baik2 saja, aku juga mencoba mempelajari seluk beluk di Gedung itu agar tidak kelabakan saat sesi lomba dimulai. Setelah cukup puas aku pun keluar, dan lalu duduk di suatu taman untuk menikmati. Untuk pertama kalinya aku meminta tolong orang sekitar untuk mengambil fotoku, karena aku benar2 ingin punya foto sendiri. Aku bersyukur selama disana aku terus bertemu dengan orang baik. Setelah cukup lama menikmati, lalu datang seorang bapak2 menghampiriku. Ia bertanya “apakah ini lokasi invention besok?”. Aku menjawab dengan antusias, iya sir, ini tempatnya. Saya sudah masuk tadi, apakah bapak juga peserta lomba besok? Oh bukan, saya diminta untuk menjadi juri disini. Aku tertegun, aku juga berfikir ini kesempatanku untuk bisa berbicara banyak dengannya sehingga besok saat lomba ia bisa lebih kenal dengan kelompokku dan menaruh perhatian lebih. Ia pun kemudian masuk kedalam, dan ia mengatakan kepadaku “saya masuk sebentar, tunggu disini ya, saya akan balik lagi kesini”. 

Saya terus duduk menikmati sambil menunggu bapak tersebut. Tidak lama kemudian bapak itu kembali dan menghampiriku. Selanjutnya kami ngorol Panjang lebar, mulai dari inovasi apa yang ku lombakan, hotel tempat tinggal dimana, asal negara kami, berapa lama kami di eropa, pengalaman2nya selama kerja, tentang pengalaman komunis yang saat itu menghantui keluarganya, sampai obrolan tentang kritisi mengenai cara pembangunan bangunan yang baru sedang dibangun. Bapak tersebut berasal dari Belgia, aslinya ia berasal dari Uni Soviyet yang kemudian mereka sekeluarga pindah ke Belgia untuk mendapatkan ketenangan, bapak itu juga seorang professor, ia menjabat dengan posisi tinggi di tempat kerjanya namun aku lupa tepatnya dimana. Menurutku orang tersebut luar biasa baik, ramah, asik, seru, rendah hati, karena kalau difikir aku awalnya merasa minder dengannya. Aku berasal dari Indonesia, yang tentu semua orang tau kalau eropa jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, aku juga hanya mahasiswa, sedangkan ia seorang pejabat penting ditempatnya. Di Poland, ia tinggal di hotel ternama mewah dan yang saya dengar dari orang2 itu hotel terindah di kota itu, dengan harga yang sesuai tentunya, sedangkan aku hanya tinggal di hotel murah denga nisi kamar banyak orang. Tapi bagaimana ia memperlakukanku? Aku merasa tidak ada gap2 tersebut, ia menganggap kita semua sama, tidak ada istilah lebih tinggi dan lebih rendah. Aku benar2 kagum, tidak hanya pada orang itu tapi seluruh orang eropa yang ke temui disana, karena disana aku diajarkan arti kesamaan dan tiada tingkatan derajat seseorang. mereka tidak menuntut untuk di hormati, tapi dengan perlakuan mereka kita yang akan segan, mereka membuat kita seperti layaknya teman sepermainan, bercanda dan lain-lain. setelah beberapa lama, kami pun pulang. Awalnya ia menawarkan untuk menggunakan taksi, karena saat ia pergi ke lokasi ini ia menggunakan taksi, namun aku menoaknya, karena aku lebih memilih berjalan kaki yang tentu lebi murah dan lebih mendapatkan pengalaman. Akhirnya ia mengikutiku berjalan kaki, karena kebetulan hotel kami searah. Kami terus ngobrol dan bercanda, bahkan ia sempat bilang gini “coba kamu lihat orang2 yang dari tadi berjalan, semua memperhatikan kita, apa coba yang mereka fikirkan?”. Aku hanya jawab ya mungkin ini teman, atau anak orang tua. Terus ia menjawab, ga mungkin kalo mereka mengira kita adalah anak dan ayah, karena wajahmu asia dan saya barat. Tapi mungkin mereka akan mengira kalau kita suami istri. “what” aku bingung sih dengan perkataan itu dan sedikit tidak nyaman, tapi aku hanya berusaha tertawa akan candaannya dan akhirnya daripada aku lebih tidak nyaman lagi aku memutuskan untuk berbelok arah, aku mengatakan kepadanya bahwa hotelku kearah sana. Akhirnya perjalanan kami sampai disitu dan kami berpisah.

Aku sampai di hotel di sore hari, dan buru2 untuk sholat zhuhur dan ashar yang saat itu aku jamak. Sejujurnya aku kurang nyaman untuk beribadah disana, kondisi disana yang menurutku sangat rasis,dimana jika kita sedang sholat semua orang yang lewat akan memperhatikan kita. Saat ku berjalan saja orang2 memperhatikanki, karena saat itu aku menggunakan jilbab yang Panjang. Karena menggunakan jilbab saja sudah aneh, apalagi dengan ukuran sebesar itu. Saat aku sholat di kamar pun teman2 lainnya memperhatikanku dan bertanya banyak tentang islam kepadaku. Aku juga sempat merasakan mereka sedikit memandan rendah Indonesia, dengan mengatakan harga barang2 di Indonesia murah, aku bisa beli banyak disana dan kemudian menjualnya disini, ya dan lain sebagainya. Tapi hanya satu orang yang mengatakan seperti itu, selebihnya menurutku sangat baik, sangat cantik, ya semua orang di eropa menurutku sangat ganteng dan cantik , bahkan hanya cleaning service pun begitu cantik dan bening. Aku tidur saat maghrib, yang disana maghribnya ialah jam 9.00 pm. Karena kelelahan dan kelaparan, akhirnya aku tertidur pulas sekali malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

warsawa :)

24 Juni 2017 Pagi ini kami telah sampai di kota yang berbeda, yaa kami sampai di warsawa, ibukota Polandia. Kedatangan kami di jemput ...