Minggu, 25 Februari 2018

Our Competition


Aku sudah janji untuk menjemput kedua temanku di terminal bus di jam kedatangan yang sama denganku sebelumnya, yaitu sekitar jam 2 dini hari. Tapi sayangnya malam itu aku sangat kelelahan, mungkin efek jetlag beberapa hari di pesawat dengan jam yang entah ga ku ngerti hehe. Akhirnya aku baru terbangun sekitar jam 4 pagi hari, dan saat itu sudah terang. Aku kaget, terus ku buka HP ternyata panggilan sudah berulang kali, dari ida, rauf, dan beberapa kakak PPI lainnya uu. Aku merasa bersalah , langsung k coba telfon balik, namun sayang ternyata mereka sudah kehilangan wifi bus, yang membuat kami lost communication. Aku fikir mereka akan menunggu di terminal bus itu, tapi ternyata setelah ku susuri jalan hingga sampai pada terminal itu mereka sudah tidak ada. Aku berkeliling kemana2, sekitar hotel, sekitar terminal namun juga tidak menemukan mereka. Sejak awal masih di Indonesia, aku sempat berpesan siapapun diantara kita jika hilang dari yang lainnya, maka segera cari wifi terdekat agar bisa komunikasi. Aku harap mereka seperti itu sehingga aku selalu melihat hp siapa tau ada panggilan dari mereka, tapi tidak ada juga uu. Aku juga sempat berfikir apa mereka nyasar karena mencoba menuju hotel tapi malah salah jalan, kemudian aku juga menyusuri jalan2 yang menurutku mungkin menemukan mereka, tapi hasilnya nihil. Hingga aku pasrah, yang fikir hanyalah, pasti kita akan bertemu, gatau aku yakin sekali setiap kesulitan pasti akan berakhir baik. Aku kembali ke hotel, dan mencoba menelfon2 mereka, namun tidak ada jawaban, aku pun sempat dimarah oleh kakak PPI karena tidak menepati janji. Ya aku merasa bersalah, tapi jujur aku gaada niatan sama sekali untuk ketiduran, aku sudah berusaha berjaga, bangun dan tidur tapi ternyata kelelahan ku memaksaku untuk tertidur pulas. Aku sempat melampiaskan kekecewaanku pada mereka, karena mengapa tidak sesuai dengan janji awal kita yg mana jika hilang kita akan saling mencari koneksi, tapi kenapa mereka tidak melakukan itu uu. Aku juga dimarahi oleh temanku dimana chat itu isinya, mba razty kita ga punya waktu banyak. Karena memang pada hari itu perlombaan kami dimulai, dan koordinasi dari kami belum matang, persiapan stand kami belum disiapkan, dan alat kami masih belum di coba lagi di lokasi lomba. Rasanya aku tidak menentu mau ngapain, aku hanya khawatir bagaimana nasib lombaku hari ini, sedangkan aku kehilangan mereka.

Singkat cerita, akhirnya telfonku berdering dan panggilan masuk dari mereka yang mengatakan raz kita sudah didepan hotel. Aku kaget, bagaimana mereka bisa sampai, bagaimana mereka bisa tau jalan. Sudahlah itu bukan hal penting lagi karena waktu kami sudah mepet, sehingga kami tidak banyak bicara dan langsung bersiap2. Suasana hatiku cukup panas antara merasa bersalah, tapi juga merasa kesal, mungkin begitu juga dengan mereka. Kami sempat berdebat di tengah perjalanan menuju lomba, namun aku bersyukur punya satu orang penengah, yag mengingatkan kami ini hanya hal kecil, yang penting kita sudah ketemu dan sekarang ayo fokus sama lomba. Aku bersyukur punya anggota kelompok yang saling melengkapi seperti itu. Aku meminta maaf, karena posisinya memang sebenarnya aku lah yang salah, karena saat hilang pun mereka ternyata menuju ketempat lomba yang aku gatau bagaimana cara mereka hingga sampai ditempat tersebut, dan mereka berusaha menyiapkan peralatan di lokasi lomba. Aku salah, dan aku kagum sama inisiatif mereka.

Ketika kami sampai di lokasi lomba, kami langsung menyiapkan segala persiapan lomba, yang alhamdulillah waktunya masih tercukupi untuk kami menyiapkan segala property dan dekorasi stand. Disana kami bertemu 2 orang anak SMA dari Denpasar, Bali dan guru pendampingnya yang sangat baik. Lomba pun dimulai sekitar pukul 8 pagi waktu sana. Aku sangat berharap bisa dijuriin oleh bapak professor kenalan ku kemarin, namun ternyata tidak. Tapi saat ia berkeliling menilai para peserta kemudian menemukanku, ia dan aku sangat antusias. Aku kenalkan ia ke teman2ku, dan membangun sedikit obrolan yg kemudian ia harus kembali berkeliling untuk menilai peserta lainnya. Sambil menunggu juri datang, kami terus berlatih koordinasi dalam presentasi, serta menyiapkan segala kemungkinan pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan kepada kami. Beberapa saat kemudian para juri pun datang menghampiri, dan kami memulai presentasi semaksimal mungkin. Disini yang paling banyak berperan menurutku ialah ida, aku bersyukur punya teman sekelompok dengannya yang mempunya pengalaman lebih, pemahaman yang baik, cara penjelasan yang meyakinkan untuk para pendengarnya. Setelah presentasi kami dinilai melalui sebuah checklist dari juri. 

Setelah presentasi kami baru merasakan sangat tenang, kami baru bisa berkeliling untuk melihat stand peserta lainnya. Hasil penelitian lainnya menurutku sangat luar biasa, aku sempat ragu apa bisa atau tidak mendapatkan medali dari perlombaan ini. Kami berkeliling hampir seluruh stand yang ada di lokasi tersebut, mulai dari stand yang dimiliki oleh orang Poland sendiri, prancis, Taiwan, Denmark, korea, dan banyak lainnya aku lupa hehe. Kami juga banyak berkenalan satu sama lain, bertukar social media, dan berfoto untuk menambah relasi. Kebetulan stand samping kami berasal dari Taiwan, seorang bapak2 yang senang sekali berfoto2, ia membawa tongsis, dan sering sekali mengajak foto orang, termasuk kami hehe. Kemudian fotonya di kirim melalui fb yang bisa kami unggah sendiri untuk menyimpannya. Stand yang paling berkesan menurutku ialah saat mengunjungi stand dari prancis. Entah karena motivasi awalku ke eropa karena ingin mengunjungi Menara Eiffel, ataukah karena mereka adalah peserta pertama yang kuajak bicara disaat aku masih survey lokasi pada hari sebelumnya, atau karena mereka yang sangat ramah dan welcome pada kami. Tapi yang jelas aku sangat senang kepada mereka. Saat mengunjungi mereka, mereka juga ingat bahwa aku yang kemarin berkenalan dengan mereka, mereka begitu antusias kepada kami, bahkan kami diberi gantungan kunci Menara Eiffel dan pin berlogo bendera prancis. Gatau kenapa aku senaaang banget bisa menerima kenang2an dari orang prancis itu langsung. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku sangat ingin ke prancis, aku sangat ingin mengunjungi Menara Eiffel, dan mereka juga antusias mendengar itu. Selain itu kami juga berkenalan dengan peserta dari Poland yang mengunjungi stand kami, orangnya ganteng bangeeet wkwk, putih tinggi mancung dan friendly. Setelah Panjang lebar kami bercerita, terus kami juga bertukar kontak dan social media. Jadi hampir setiap orang yang berkenalan dengan kami, pasti selalu kami minta tukar kontak hehe, siapa tau next destination tempat mereka kan kami bisa menghubungi mereka.

Hari pertama pun berlalu, kami lega bisa pulang dengan tenang karena sudah presentasi. Tinggal hari esok yang kami hanya perlu menjelaskan kepada pengunjung saja, tentunya tidak akan setegang jika harus presentasi pada juri yang menilai kita. Selama perjalanan pulang, kami sadar pakaian yg kami kenakan cukup aneh di kota itu, tidak sedikit yang memperhatikan kami, bahkan sampai ada yg berbalik arah dan mengampiri kami hanya untuk menanyakan darimana asal kami. Aku pun menjawab, Indonesia. Responnya, oh pantas saja pakaianmu seperti ini. kemudian ia pergi, kami juga bingung apa tujuannya, tapi yasudahlah karena mungkin memang sangat jarang di kota itu kedatangan orang muslim yang menggunakan hjab. Setelah sampai di hotel kami kelelahan, dan terlebih pada kedua temanku yang belum ada istirahat sama sekali. Sampai di dorm kami bersiap2 tidur, merapikan kamar dan kemudian tidur pulas. Ada sih rencana keliling sekitar hotel di malam hari, tapi ternyata setelah dilihat sekilas, kata temanku banyak orang yang mabuk sehingga bahaya jika kita pergi sendiri untuk keluar untuk menikmati malam itu.

Keesokan harinya kami lebih tenang dalam perjalanan, bahkan kami sempat berfoto2 terlebih dahulu di sekitar hotel sebelum berangkat, kami sempat menikmati udara pagi di kota itu, melihat hiruk pikuk orang2 yang sedang bersiap2 untuk bekerja, mempersiapkan lokasi kerja, dan lainnya. Bangunan di Poland unik, klasik, dan memiliki khas sendiri. Setelah beberapa saat, kami kembali ke hotel dan bersiap2 menuju lokasi perlombaan kembali. Hari yang kurang lebih seperti kemarin, dan kami sempat berkeliling ke stand2 yang belum kami kunjungi. Sore harinya kami diundang untuk mengikuti party yang disediakan dari panitia acara, tapi karena kami masih merasa kelelahan jadi kami tidak hadir dalam acara tersebut.

Malam harinya kami pun datang menghadiri acara penutupan sekaligus pengumuman para pemenang. Sesampainya disana ternyata acara sudah dimulai, dan ternyata Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa polandia uu. Kami bingung, tapi alhamdulillah ternyata disediakan headset translater dalam berbagai Bahasa dan kami memilih Bahasa inggris. Saat itu perasaanku tidak menentu, aku deg2an, aku takut, yang keluar dari mulutku hanyalah doa doa dan doa, sedangkan pada hatiku hanyalah harapan harapan, dan berusaha positive thinking bahwa kami bisa menang. Pembacaan pemenang dimulai dari medali bronze, tiba2 tulisan nama anak2 dari SMA Denpasar keluar dari papan pengumuman, kami semua kaget dan senang sekali, serta mengucapkan selamat kepada mereka. Pembacaan bronze medal selesai, nama kami tidak ada uu. Kemudian berlanjut ke silver medal, dan nama kami pun masih tidak ada. Hatiku semakin berdegu kencang, aku takut tidak mendapatkan medali . Selanjtunya pembacaan gold medal…. Dan alhamdulillah nama kami keluar :’). Kami langsung bersiap untuk maju kedepan untuk menerima penghargaan. Saat akan kembali ke tempat duduk, tampak dari kejauhan bapak professor kemarin, ia berdiri untuk mengucapkan selamat kepadaku dari kejauhan, aku hanya menggunakan isyarat untuk mengucapkan terimaksih banyak, terimakasih atas segala support bapak.

Setelah acara selesai kami pun para pemenang diminta untuk maju kedepan. Kami berfoto bersama2, dan merayakan kemenangan kami didepan panggung. Kami menghampiri bapak professor tersebut dan mengajaknya untuk foto Bersama. Bapak itu sungguh baik, ia memberikan kontaknya kepadaku dan mengatakan ayo ke belgia. Sebelum pulang ke Indonesia, ayo singgah ke Belgia jaraknya cukup dekat dengan menggunakan pesawat, jika kamu kesana saya akan jemput kamu di bandara dan menemani jalan2 selama disana. Aku terharu, aku kagum dengan kerendahan hatinya, aku kagum dengan orang eropa yang tidak menganggap adanya perbedaan kasta, walaupun menurutku ia sudah sangat hebat tapi ia malah menganggap kita adalah sama, dan ia sempat mengatakan kepada ku “because you are my friend”.  Aku pun tak lupa untuk basa basi mengajaknya main ke Indonesia, tapi ia bilang yah kalau saat ini jauh hehe, mending kamu aja yang ke Belgia, karena masih di Eropa. Setelah itu kami berpisah, dan kemudian mengikuti acara makan2. Budaya disana, makan sambil berdiri, kita antri mengambil makanan, dimana itu tidak jelas yang mana halal dan haram uu, jadi amannya aku hanya mengambil kue2 yang tidak berdaging. Air minumnya aneh uu, aku kurang suka rasanya, jadi saat itu aku malah mengambil air kran untuk minum, karena kalau di Eropa itu air krannya bisa diminum kata salah satu kakak PPI. Makanya kami jarang membeli air minum disana, karena dengan mengambil air kran itu sudah cukup.

Dalam perjalanan pulang kami sangat bahagia, bersyukur atas kesempatan dan pencapaian yang diberikan kepada kami. Kami menikmati malam terakhir Katowice saat itu Bersama adik2 dari bali, berfoto2 ria, duduk santai dan lain-lain. Di tengah perjalanan kam bertemu sama juri kami, dan kami bertegur sapa. Ia sangat baik, ia menanyakan setelah ini apakah akan pulang atau mau kemana. Kami bilang kepadanya bahwa kami ingin berwisata di Polandia dahulu, kemudian ia langsung memberikan banyak referensi kepada kami, ia juga memberikan kontaknya, sehingga jika terjadi apa2 kami disuruh menghubunginya. Setelah kami berpisah, timku dan tim bali berdiskusi tentang kota mana yang akan kita kunjungi. Kami mengatakan bahwa kami Sudah membeli tiket ke warsaw, apakah mereka ingin ikut atau tidak. Awalnya ia, tapi setelah bertemu professor itu mereka rubah fikiran dan memilih untuk mengunjungi Krakow.

Malam itu batas penyewaan kamar di hotel kami sudah habis, sehingga kami menumpang di kamar adik2 dari Bali tersebut hehe, karena dini hari kami sudah harus berangkat lagi menuju warsaw, jadi ya lumayan uangnya kalau dibuat nambah nyewa kamar sehari lagi. Malam itu pun kami berbagi tempat tidur, kamarnya memang cukup besar, ada sofa yang bisa kami gunakan untuk tidur, ada karpet untuk tidur lesehan. Mereka memang sangat baik, bahkan gurunya malah yang tidur dibawah dan menyuruh kami untuk tidur diatas uu. Ga enak sih, Cuma memang budget kami sangat minim saat itu, jadi harus pintar2 dalam menekan biaya hidup disana. Malam itu kami juga memasak pop mie gelas, dimana sorenya adik2 sma itu bilang bahwa mereka rindu makan mie, dan kami bilang bahwa kami bawa persediaan itu hehe dan kami membawa alat untuk merebusnya 😊. Malam itu rasanya nikmat, lebih nikmat dari makan2an party tadi hehe, makan indomie, menikmati keberhasilan ya didapat, dan bersenda gurau bersama. Setelah mulai lelah satu per satu dari kami mulai tidur, tapi aku sengaja mengajak teman setimku untuk saling berjaga, karena khawatir ketinggalan bus. Sekitar pukul 3 dini hari, kami pun bersiap2 untuk berangkat ke warsaw yang akan ditempuh sekitar 4-6 jam perjalanan.

Sabtu, 10 Februari 2018

First Day in Poland


Hari 1 Katowice, Polandia (21 Juni 2017)
Aku terbangun sekitar pukul 08.00 waktu eropa. Ku lihat sekitar ternyata sudah ada beberapa orang yang terbangun dan kami membangun obrolan sebentar sembari bersiap2.  Kamar kami tersedia 1 kamar mandi dan 1 toilet serta dapur yang menurutku nyaman, ada balkon di belakang dimana kita bisa merasakan sensasi bangunan eropa yang klasik, serta cuaca malam yang dapat menghiburku menikmati suasana saat itu. Aku mulai merapikan barang2ku di lemari agar terlihat rapi, ku setrika baju yang akan ku gunakan saat itu, ku gantungi baju yang belum begitu kotor, kemudian mandi dan bersih-bersih. Saya kurang senang toilet di eropa, karena disana tidak menggunakan air untuk bersih2 setelah buang air, tapi hanya menggunakan tissue. Aku kurang nyaman, sehingga ku gunakan gelas yang sebelumnya ku tampung air terlebih dahulu agar menyamakan dengan toilet di Indonesia. 

Setelah siap, aku mulai berpetualang sendiri karena di hari itu aku masih sendiri di eropa sedangkan kedua temanku menyusul datang di esok hari dengan jam kedatangan yang persis sama seperti aku tadi malam yaitu sekitar pukul 02.20 a.m. Aku mulai mengenali lingkungan sekitar untuk persiapan beberapa hari kedepannya. Mulai dari menikmati dan memaknai bangunan2 disana, sekedar berfoto2 tempat di sekitar hotel, kemudian ku cari tempat penukaran uang dollar ke zlotty, mencari lokasi lomba, menghafal jalan sekitar, mengingat tepat pemberhentian bus tadi malam agar aku bisa menjemput kedua temanku nanti malam, dan menikmati suasana di polandia saat itu. Aku sedikit kesulitan mengenai komunikasi disana, karena sebagian besar penduduk polandia tidak bisa berbahasa inggris, untungnya aku selalu diawasi oleh kakak2 PPI, yang mana mereka membantuku bagaimana Bahasa polandia, ya walaupun hanya sekedar salam disana bagaimana, kemudian bagaimana mencari tempat penukaran uang, dan bagaimana Bahasa untuk mengatakan jika saya ingin menukarkan uang. Perlahan ku perhatikan sekitarku untuk mencari tempat tersebut, dan ternyata tempat terdekat ialah benar2 disamping hotelku. Aku masuk ke ruangan kecil itu dan mencoba berlatih Bahasa Poland itu serta mengaplikasikannya saat berkomunikasi dengan orang, yang kira2 seperti ini, “dzien dobry (selamat pagi) “, ” czy pan mowic po angielsku? (apakah mr bisa ngomong inggris?)”. orang tersebut malah tertawa saat ku mencoba Bahasa tersebut, hehe mungkin logatku benar2 aneh. Kemudian ia menjawab yes I can. Selanjutnya aku berkomunikasi dengan Bahasa inggris. Setelah itu aku mencoba menikmati pasar pagi di sekiar hotel, mulai dari tas2 kecil, sepatu, baju dan lain2 banyak dijual, namun aku sulit untuk menanyakannya lebih lanjut, selain karena aku tidak berminat karena harga yang sangat mahal itu, mereka juga jarang yang bisa Bahasa inggris. 

Selanjutnya aku pun mulai mencari lokasi lombaku, berbekal kartu hp yang sudah diisi internetnya aku benar2 berpasrah pada google maps dan terus mengikuti alurnya sambil menghafalkan jalan menuju kesana alone travelling memang asik, aku bisa sesuka hati untuk berjalan, berhenti dan menikmati suasana, berhenti untuk berfoto2 serta memfoto bangunan2 klasik yang aku lewati. Aku bebas mau pergi kemana saja tanpa khawatir ada yang merasa tidak nyaman, tapi disatu sisi juga aku tidak nyaman karena sulit mengabadikan momen itu karena tidak ada yang bisa fotoin aku, Cuma selfie2 doang jadinya huhu. Suasana disana nyaman, tidak begitu panas dan tidak begitu dingin, orang2 disana menurutku individualis, tidak seperti di Indonesia dimana setiap kita lewat mau kenal ataupun tidak kita saling sapa, saling senyum. Namun disana tidak sama sekali, orang sibuk dengan masing2 tujuannya, berjalan begitu cepat, tertib, dan teratur. Aku kagum dengan kedisplinan disana, orang2 disana seperti menganggap waktu sangat berharga, terlihat dari cepat dan tangkasnya mereka berjalan. Kemudian saat ada lampu merah, semua yang berjalan jika memang masih lampu merah maka tidak ada satupun yang melanggar, begitupun kendaraan. Wajar saja ketika kita mendengar jarang sekali ada kecelakaan lalu lintas disana. Saat lampu hijau untuk pejalan kaki pun kita harus sigap, harus cepat dalam berjalan, karena waktu yang tersedia hanya sedikit sehingga jika kita berleha2 saat berjalan bisa2 tertabrak oleh kendaraan yang lewat.

Aku sampai di lokasi pada siang hari, bangunannya bagus unik, menentramkan karena kehijauannya, menawan di malam hari, aku terkesima dengan keadaan saat itu. Aku mencoba masuk kedalam bagunan itu, keadaannya ramai, ramai akan orang2 berjas hitam. Mungkin aku terlihat kebingungan aku dihampiri oleh salah satu dari orang2 tersbut yang kemudian ia bertanya apa yang sedang saya lakukan disini, dan apa yang bisa ia bantu. Aku menceritakan tentang lomba, kemudian dengan baik hati ia mengantarkan aku ke lokasi dimana stand2 pameran sedang dipersiapkan. Ku coba cari satu per satu, dan akhirnya aku menemukan stand Indonesia disana. Mungkin aku menghabiskan waktu cukup lama di Gedung itu, untuk mengabari kedua orang tua ku bahwa aku disini baik2 saja, aku juga mencoba mempelajari seluk beluk di Gedung itu agar tidak kelabakan saat sesi lomba dimulai. Setelah cukup puas aku pun keluar, dan lalu duduk di suatu taman untuk menikmati. Untuk pertama kalinya aku meminta tolong orang sekitar untuk mengambil fotoku, karena aku benar2 ingin punya foto sendiri. Aku bersyukur selama disana aku terus bertemu dengan orang baik. Setelah cukup lama menikmati, lalu datang seorang bapak2 menghampiriku. Ia bertanya “apakah ini lokasi invention besok?”. Aku menjawab dengan antusias, iya sir, ini tempatnya. Saya sudah masuk tadi, apakah bapak juga peserta lomba besok? Oh bukan, saya diminta untuk menjadi juri disini. Aku tertegun, aku juga berfikir ini kesempatanku untuk bisa berbicara banyak dengannya sehingga besok saat lomba ia bisa lebih kenal dengan kelompokku dan menaruh perhatian lebih. Ia pun kemudian masuk kedalam, dan ia mengatakan kepadaku “saya masuk sebentar, tunggu disini ya, saya akan balik lagi kesini”. 

Saya terus duduk menikmati sambil menunggu bapak tersebut. Tidak lama kemudian bapak itu kembali dan menghampiriku. Selanjutnya kami ngorol Panjang lebar, mulai dari inovasi apa yang ku lombakan, hotel tempat tinggal dimana, asal negara kami, berapa lama kami di eropa, pengalaman2nya selama kerja, tentang pengalaman komunis yang saat itu menghantui keluarganya, sampai obrolan tentang kritisi mengenai cara pembangunan bangunan yang baru sedang dibangun. Bapak tersebut berasal dari Belgia, aslinya ia berasal dari Uni Soviyet yang kemudian mereka sekeluarga pindah ke Belgia untuk mendapatkan ketenangan, bapak itu juga seorang professor, ia menjabat dengan posisi tinggi di tempat kerjanya namun aku lupa tepatnya dimana. Menurutku orang tersebut luar biasa baik, ramah, asik, seru, rendah hati, karena kalau difikir aku awalnya merasa minder dengannya. Aku berasal dari Indonesia, yang tentu semua orang tau kalau eropa jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, aku juga hanya mahasiswa, sedangkan ia seorang pejabat penting ditempatnya. Di Poland, ia tinggal di hotel ternama mewah dan yang saya dengar dari orang2 itu hotel terindah di kota itu, dengan harga yang sesuai tentunya, sedangkan aku hanya tinggal di hotel murah denga nisi kamar banyak orang. Tapi bagaimana ia memperlakukanku? Aku merasa tidak ada gap2 tersebut, ia menganggap kita semua sama, tidak ada istilah lebih tinggi dan lebih rendah. Aku benar2 kagum, tidak hanya pada orang itu tapi seluruh orang eropa yang ke temui disana, karena disana aku diajarkan arti kesamaan dan tiada tingkatan derajat seseorang. mereka tidak menuntut untuk di hormati, tapi dengan perlakuan mereka kita yang akan segan, mereka membuat kita seperti layaknya teman sepermainan, bercanda dan lain-lain. setelah beberapa lama, kami pun pulang. Awalnya ia menawarkan untuk menggunakan taksi, karena saat ia pergi ke lokasi ini ia menggunakan taksi, namun aku menoaknya, karena aku lebih memilih berjalan kaki yang tentu lebi murah dan lebih mendapatkan pengalaman. Akhirnya ia mengikutiku berjalan kaki, karena kebetulan hotel kami searah. Kami terus ngobrol dan bercanda, bahkan ia sempat bilang gini “coba kamu lihat orang2 yang dari tadi berjalan, semua memperhatikan kita, apa coba yang mereka fikirkan?”. Aku hanya jawab ya mungkin ini teman, atau anak orang tua. Terus ia menjawab, ga mungkin kalo mereka mengira kita adalah anak dan ayah, karena wajahmu asia dan saya barat. Tapi mungkin mereka akan mengira kalau kita suami istri. “what” aku bingung sih dengan perkataan itu dan sedikit tidak nyaman, tapi aku hanya berusaha tertawa akan candaannya dan akhirnya daripada aku lebih tidak nyaman lagi aku memutuskan untuk berbelok arah, aku mengatakan kepadanya bahwa hotelku kearah sana. Akhirnya perjalanan kami sampai disitu dan kami berpisah.

Aku sampai di hotel di sore hari, dan buru2 untuk sholat zhuhur dan ashar yang saat itu aku jamak. Sejujurnya aku kurang nyaman untuk beribadah disana, kondisi disana yang menurutku sangat rasis,dimana jika kita sedang sholat semua orang yang lewat akan memperhatikan kita. Saat ku berjalan saja orang2 memperhatikanki, karena saat itu aku menggunakan jilbab yang Panjang. Karena menggunakan jilbab saja sudah aneh, apalagi dengan ukuran sebesar itu. Saat aku sholat di kamar pun teman2 lainnya memperhatikanku dan bertanya banyak tentang islam kepadaku. Aku juga sempat merasakan mereka sedikit memandan rendah Indonesia, dengan mengatakan harga barang2 di Indonesia murah, aku bisa beli banyak disana dan kemudian menjualnya disini, ya dan lain sebagainya. Tapi hanya satu orang yang mengatakan seperti itu, selebihnya menurutku sangat baik, sangat cantik, ya semua orang di eropa menurutku sangat ganteng dan cantik , bahkan hanya cleaning service pun begitu cantik dan bening. Aku tidur saat maghrib, yang disana maghribnya ialah jam 9.00 pm. Karena kelelahan dan kelaparan, akhirnya aku tertidur pulas sekali malam itu.

warsawa :)

24 Juni 2017 Pagi ini kami telah sampai di kota yang berbeda, yaa kami sampai di warsawa, ibukota Polandia. Kedatangan kami di jemput ...