Rabu, 31 Januari 2018

Goes to Europe (Part II)

20 Juni 2017
Qatar-Berlin-Katowice, Poland

Shubuhnya aku sampai di bandara Qatar, seketika ku buka Hp banyak banget notif yang masuk. Dan tadaa, ku lihat satu per satu chat, diantaranya keluargaku dan kedua temanku itu :”). Keluargaku sangat khawatir denganku, sampai mamaku meminta aku memfoto semua identitasku, passport, visa, tiket, dan semuanya agar jika terjadi apa-apa mereka bisa dengan mudah melacak keberadaanku. Setelah proses imigrasi aku langsung melakukan semua yang diminta oleh orang tuaku itu. Chat berikutnya adalah dari Ida, isinya kira2 intinya “mba razty alhamdulillah kita berdua berangkat pake Turkish airlines, nanti kita ketemu di Poland ya mba. Sampe di Berlin mba nanti dijemput sama mas x (salah satu anggota PPI Polandia). Semua sudah diurusin sama kakak2 PPI, mba razty tenang aja”. Seketika itu semua kekhawatiranku hilang, aku baru merasakan nikmatnya perjalanan setelah mendengar kabar itu. Sebenarnya aku membaca chat tersebut ketika masih dari bus menuju bandara di Qatar sih hehe. Setelah itu baru aku bisa foto-foto dengan tenang, menikmati tripku, fokus belajar untuk persiapan presentasi nanti, dan hatiku benar2 tenang. 

Kurang lebih 2 jam di Bandara Qatar selanjutnya aku melanjutkan perjalanan menuju berlin. Itu adalah pertama kalinya aku pergi sendiri, akhirnya untuk menghilangkan kebosanan, aku mengajak ngobrol salah satu penumpang berasal dari Jerman. Awalnya aku hanya meminta tolong kepadanya untuk memfotokanku, namun setelah itu kami berkenalan dan saling bercerita tentang pengalaman kami. Aku senang, karena aku merasa aku bisa menikmati obrolanku Bersama orang asing yang awalnya ku fikir akan sulit bagiku mencerna pembicaraan itu. Waktu boarding pass pun tiba, kami terus berjalan Bersama hingga sampai di pintu pesawat, dan akhirnya kami terpisahkan karena lokasi seat yang jauh berbeda. Aku menuju seat ku dan ternyata aku duduk dengan anak usia sekitar 7 tahunan berasal dari Iraq yang pergi Bersama keluarganya. Mereka juga memiliki kesulitan dalam berkomunikasi Bahasa inggris, sehingga tidak banyak obrolan antara aku dengan anak tersebut. Namun anak itu begitu lucu, ganteng, dan seru walaupun kita berkomunikasi hanya menggunakan isyarat. Sesekali ibunya melihat kepadaku dan tersenyum, dan ada beberapa obrolan pendek antara aku dengan ibunya. Bahkan ia menitipkan anaknya kepada ku sebentar sembari ia pergi ke toilet. 6 jam berlalu, dan alhamdulillah aku sampai di Eropa tepatnya Berlin, Germany. 

Bayanganku, bandara di berlin akan seperti di Qatar, Dubai, ataupun lainnya yang sangat bagus. Tapi ternyata aku sempat kaget dengan keadaan bandara disana, karena menurutku bandaranya tergolong kecil dan sederhana. Bahkan dibandingkan bandara Pontianak, menurutku masih bagusan Pontianak. Tapi itu hanya menruutku secara fisik, mungkin dari segi teknologi akan jauh berbeda hehe.

Aku turun dari pesawat kemudian naik bus yang mengantarkanku ke bandara. Selama di bus aku bertemu dengan orang Indonesia, seorang bapak, ibu, dan anaknya datang ke jerman untuk liburan dan menemui anaknya yang sedang kuliah di Frankfurt. Betapa senangnya aku ketika bertemu dengan sesame orang Indonesia, karena bagaimanapun Bahasa Indonesia adalah Bahasa ternyaman yang aku pakai saat itu. Kami ngobrol Panjang yang ternyata anak dari bapak itu tidak menjemputnya di Bandara sehingga ia dan keluarganya sedikiti kebingungan untuk mencari tempat tinggal anaknya. Akhirnya aku mengatakan bahwa aku dijemput oleh kakak PPI, dan kemudian bapak itu mengikuti kami dan ia juga dibantu oleh kakak PPI tersebut agar bisa sampai pada lokasi tempat anaknya tinggal.

Begitu sampai di bandara Berlin, aku langsung menyambungkan hp ku wifi, dan ternyata mas ppi nya sudah nge whats app dulu, dan mengatakan kalau ia sudah di bandara dan ia akan menunggu saya depan pintu terminal. Hatiku melonjak senang dan tenang karena berarti aku tidak seperti anak terlantar yang kehilangan arah :’). Saat itu aku keluar pintu dan langsung mencari orang dengan berwajah Indonesia dan berbaju merah. Yaa aku ketemu, ia langsung menyambut hangat dan ia menawarkan makan terlebih dahulu karena ia tau perjalanan panjangku pasti sangat melelahkan. Namun aku menolak karena pada saat itu aku sedang berpuasa. Puasa di eropa memang benar-benar diuji kesabarannya karena kita berpuasa 18 jam, dengan posisi sahurku yang tidak menentu dan entahlah aku juga tidak mengerti membuatku saat itu memang merasa sangat lapar. Namun aku berusaha untuk kuat, karena bagaimanapun aku bisa sampai di tempat itu atas izin Allah, dan aku tidak ingin mengecewakan Allah hanya karena kelaparan dan kelelahan sedikit aku harus membatalkan puasa. Sebenarnya perjalananku belum selesai, karena tujuan utamaku adalah Katowice, Polandia. Jadi setelah sampai di berlin aku langsung diajak ke dorm kakak nya untuk istirahat dan sholat kemudian aku langsung diantar kembali ke terminal bus yang saat itu aku menggunakan Polsky bus. Jujur, aku sangat tersentuh akan kebaikkan kakak tersebut, ia meminjamkan kami rice cooker untuk perlombaan kami, dan ia meminjamkan kartunya untuk kami gunakan selama di eropa, sehingga kami tidak harus mencari2 wifi dulu untuk bisa mendapatkan internet. Aku gatau mau bilang makasih nya kayak gimana lagi, karena itu benar-benar menyelamatkan hidup kami disana. Setelah kakak itu mengantarkan aku ke terminal, aku menunggu kedatangan bus nya, yang tentunya sudah secara jelas di jelaskan bagaimana cara-caranya oleh kakaknya, dan untuk tiketnya sudah dibelikan oleh kakak PPI Poland yang lain hingga penginapan di Polandianya.

Sembari menunggu, aku bermain hp dengan rice cooker yang ku letakkan di sampingku. Hingga tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengajakku mengobrol hingga meminta kontakku sebagai tambahan kenalannya. Laki-laki itu sangat tertarik dengan rice cooker ku, ia terlihat sangat antusias bertanya-taya tentang rice cooker untuk apa, dan dia mengatakan pernah makan nasi dan ia sangat menyukainya, ia juga begitu penasaran bagaimana cara memasak nasi dengan benar. Setelah beberapa lama kami mengobrol, tibalah bus ku melintas didepan dan aku segera berpamitan dengan laki-laki itu. Orang tersebut sangat mendukungku dalam perlombaan, dan ia selalu mengatakan jika setelah lomba selesai kami di ajak untuk liburan ke rumahnya yang kebetulan juga berada di Polandia namun berbeda kota.

Aku terus berjalan menuju bus itu, kemudian mencari dimana lokasi tempat dudukku. 6 jam perjalanan yang menurutku melelahkan. Bus itu memang sangat nyaman, bus dengan 2 lantai itu memiliki fasilitas wifi, ac, kabin, kursi yang empuk, namun aku merasa sangat Lelah tapi khawatir jika tertidur. Karena jika tertidur, bisa-bisa aku melewati kota yang ku tuju. Tapi alhamdulillah qadrullah setiap kali ak tertidur, aku selalu terbangun saat bus tersebut sampai di kota tujuanku. Aku sampai di kota tujuanku pada dini hari, yang mana cuaca pada saat itu sangat dingin karena musim peralihan dari summer ke autumn sedangkan aku tidak membawa jaket sama sekali karena tertinggal saat buru-baru pergi menuju bandara jogja. Bermodalkan kartu yang ada internetnya, aku mencari hotel yang sudah dipesankan untukku di Katowice. Hembusan angin malam memang terasa sangat dingin, namun karena hatiku yang berdebar-debar karena saat itu sendiri, malam-malam sepi aku hanya berjalan sendiri mencari dan mengikuti arah google maps. Karena saat itu satu2nya yang bisa ku percaya hanya google maps di hp ku, aku mondar mandir sekitar setengah jam dan akhirnya menemukan hotel itu yang ternyata lokasinya tidaklah jauh dari tempat pemberhentian bus tadi. Sesampainya di hotel, pintunya tertutup. Dalam beberapa menit aku cukup bingung bagaimana mengoprasikan kode2 yang ada didepan hotel tersebut agar bisa terbuka. Sebelumnya memang dari pihak hotel telah mengirim sms kepadaku tentang bagaimana cara masuk hotel, karena kedatanganku diluar jam kerja sehingga mereka hanya bisa memberikan cara melalui Tulisan di sms itu. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki datang menghampiriku dan bertanya bagaimana cara masuk hotel ini, dan alhamdulillah saat itu aku menemukan caranya dari sms pihak hotel sebelumnya.


Kemudian aku masuk kedalam dan terus mencari lantai kamarku, namun beberapa kali aku terhalang kembali dan agak kesulitan untuk bisa masuk kedalam kamar. Sekitar 2 jam aku menunggu dan sempat berfikir aku hanya menunggu di tangga sembari menunggu hotel buka kembali. Tapi dalam beberapa menit aku masih ingin mencoba kembali untuk membuka pintu, dan alhamdulillah ternyata bisa terbuka. Aku menuju kamar dengan perasaan tenang dan lega, kemudian aku sholat serta sahur sebisa ku dengan bekal yang sudah ku bawa dari Indonesia yaitu nasi popaye dan kue2 yang telah kukumpulkan selama di pesawat. Setelah itu pun aku tertidur, dengan 4 orang lainnya dalam kamar tersebut.

Goes to Europe (Part I)

 19 Juni 2017
Joja - Kuala Lumpur

Alhamdulillah hari ini kami mulai perjalanan kami, setelah beberapa rintangan terlewati dan hari ini telah tiba. Aku berfikir kalau setelah in hanya sedikit rintangan yang akan dilewati, Aku merasa kami sudah pasti berangkat, dengan pegangan tiket masing-masing dari kami, dan Aku yakin semua akan berjalan mulus. Sekitar pukul 5 sore, kami berangkat dari Jogja menuju ke Kuala Lumpur. Sampai di KL kami masih mempunyai waktu banyak, karena keberangkatan dari KL menuju Qatar masih pada jam 2 dini hari. Sehingga kami menghabiskan waktu untuk sholat, foto-foto, makan, dengan santainya. Sekitar jam 11 kami sudah mulai menunggu di ruangan check in, harapannya ketika check in di buka kami bisa langsung check in dan bisa tenang untuk semua urusannya. Sambil menunggu bukanya check in, kami sambil berfoto-foto. Sekitar pukul 12.00, hal yang terduga datang menimpa kami. Ida menerima email bahwa tiket yang telah dibeli kemarin di tolak sepihak.

“Sedikit cerita tentang proses pembelian tiket kami. Kami membeli tiket pada h-3 keberangkatan, dimulai dari siang-sore hari. Namun ternyata pembelian tiket harus menggunakan credit card. Beberapa travelling agent kami coba, namun ternyata hampir semua sama yaitu harus menggunakan credit card. Akhirnya Aku menelfon keluarga Aku yang saat itu memiliki credit card, namun ternyata tidak bisa karena limitnya kurang. Kami berusaha menghubungi semua teman yang memungkinkan, namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya Aku menemukan travelling agent nusatrip yang bisa menggunakan ATM Indonesia dalam transaksi pembayaran. Tapi pembayaran hanya bisa dilakukan dalam 1 jam, sedangkan ATM Aku mempunyai limit hanya 5juta untuk transfer dalam sehari, sedangkan harga tiket sekitar 11 juta. Awalnya Aku yang kebagian untuk membeli tiket semua anggota kelompok, namun karena terkendala limit itu akhirnya Aku memutuskan untuk membeli 1 tiket terlebih dahulu baru membeli tiket teman Aku yang lain. Aku pun kemudian membayar tiket tersebut, dengan perasaan tegang dan cemas karena jika dalam 1 jam tidak terbayar lunas maka tiket tidak akan terbeli dan uang yang telah dibayarkan akan hangus. Solusinya saat itu Aku menggunakan ATM Aku, ATM abang Aku, dan ATM orang tua Aku. Aku sangat bersyukur mempunyai keluarga yang begitu mendukung, entah bagaimana lagi Aku harus berterimakasih kepada mereka dengan pengorbanan uang tenaga dan fikiran yang mereka lakukan untuk Aku. Singkat cerita, alhamdulillah 1 tiket terbeli, dan kemudian tinggal memikirkan 2 tiket yang lainnya. Dalam jangka kurang lebih 2 jam, tiba2 terdengar notification dari travelling agent tersebut dan mengatakan transaksi Aku tidak berhasil. Terus Aku berfikir, lantas gimana dengan uang yang telah Aku bayarkan tersebut. Karena ternyata harga tiket naik, dan Aku harus membayarkan uang tambahan sekitar 2 juta lagi, atau kalau mau di cancel uangnya akan kembali seminggu kemudian. Fikiranku yang awalnya sudah mulai tenang kemudian memuncak lagi, Aku kembali panik sampai akhirnya Lelah untuk memikirkan hal tersebut. Keputusan akhirnya Aku menambah uang 2 juta tersebut karena untuk mendapatkan uang talangan yang lain sebelum uang sebelumnya dikembalikan menurut kami lebih sulit. Setelah Aku bayarkan alhamdulillah 1 tiket selesai dan e-ticket pun tercetak. Keesokkan harinya kami masih berfikir bagaimana cara membeli 2 tiket yang lain, karena 1 tiket saja sudah banyak menguras tenaga. Sekitar pukul 8 pagi, akhirnya ida mendapatkan pinjaman credit card melalui temannya. Yang akhirnya kami bisa membeli tiket untuk 2 orang lainnya. Setelah e-ticket keluar kami benar-benar merasa lega, tenang, dan hanya tinggal memikirkan persiapan keberangkatan.”

Setelah notification itu masuk, kami bertiga panik. Karena untuk menghubungi pihak travelling agent, kami posisinya sudah berada di Malaysia, sehingga kartu hp kami tidak berfungsi. Kami langsung menghampiri penjual nomor telfon di Malaysia untuk membeli kartu. Tapi alhamdulillah orang tersebut sangat baik, ia meminjamkan hp nya kepada kami dan pulsanya untuk menelfon nomor tersebut. Bahkan orang tersebut terus terlibat hingga masalah kami selesai. orang terseut dengan sepenuh hati membantu kami, berusaha mencarikan temannya yang punya ATM, membantu mencarikan solusi untuk membeli tiket baru, dan lain sebagainya. Berbagai usaha telah kami fikirkan, mulai dari mencari pinjaman uang untuk membeli tiket baru, meminjam ATM orang Malaysia untuk megambil uangnya, bernegosiasi dengan pihak travelling agent tersebut, dan banyaak lainnya. Namun hasilnya nihil juga, tidak ada yang berani meminjamkan uang sebesar itu, yaitu sekitar 24 juta untuk membeli 2 tiket baru. Sampai Aku pun berfikir apakah kepergian kami ini bukan lah hal yang di ridhoi Allah, karena sejak awal begitu banyak hambatan yang lalui. Sampai di titik sekarang pun, yang menurutku awalnya akan berjalan mulus karena tiket sudah ditangan tapi ternyata muncul masalah sebesar ini. Uang yang telah dibayarkan ke travelling agent akan kembali 2 minggu setelah ini. Bagaimana tidak panik, uang telah melayang, tiket belum dapat, hanya Aku sendiri yang tidak bermasalah tiketnya pada saat itu, dan perjuangan, pengorbanan, serta uang yang telah kami keluarkan hingga titik ini sudah terlalu banyak. Hanya tinggal selangkah lagi, tapi kenapa masih adalah rintangan. Sempat terfikiran olehku apakah lebih baik kami pulang saja, dan batal untuk mengikuti lomba ini. Karena fikirku aku telalu egois jika hanya berangkat sendiri, dan aku juga berfikir bagaimana nasibku sendiri di negara orang yang sangat jauh seperti itu jika tanpa mereka. Aku pun menelfon orang tua, dan orang tuaku juga sangat khawatir serta menyuruhku untuk balik saja ke Indonesia. Hati Aku masih berkecamuk, antara balik Indonesia dan membiarkan semua usaha dan perjuangan kami gagal begitu saja atau melanjutkan perjalanan yang belum tau bagaimana nasibnya, belum tau apakah kedua temanku yang lain bisa berangkat atau tidak, dan belum tau bagaimana kalau aku membawa nama Indonesia dengan modal sendiri, sedangkan alat yang kami bawa sangat berat yaitu sekitar 11 Kg, sehingga sangat membutuhkan tenaga cowo untuk membantu membawa alat ini. 

Waktu terus berjalan, waktu check in pun telah terbuka, namun kami masih dalam keadaan sulit seperti itu. Aku pada saat itu akhirnya berfikir untuk mencari aman terlebih dahulu, yaitu mencheck in kan barang2 Aku ke bagasi dan kemudian melanjutkan pencarian solusi tadi lagi. Rauf mendapatkan informasi bahwa temannya bisa membantu membelikan tiket baru, namun itu juga belum pasti. Aku pun menelfon orang tua kembali dan meminta restu untuk berangkat karena masih ada kemungkinan kedua temanku bisa ikut walaupun menyusul. Dengan berat akhirnya kedua orang tuaku memberikan izin tersebut. Tapi hatiku masih sangat bimbang, karena bagaimanapun sebenarnya belum ada kepastian dari kedua temanku apakah benar bisa berangkat atau tidak. Hal lain yang Aku fikirkan ialah apakah bisa Aku seorang diri tanpa teman diskusi melanjutkan perjalanan ini,bagaimana situasi disana, bagaimana keadaannya, bagaimana orang-orangnya, dan apakah Aku bisa berkomunikasi dengan modal Bahasa inggris yang seperti ini. Pada 15 menit terakhir check ini, aku kembali menemui petugas di bagian check in dan menanyakan apakah tas yang sudah Aku masukkan ke bagasi bisa Aku ambil kembali? Kira2 percakapan Aku dengannya seperti ini:
S: Aku tidak jadi berangkat
P: Kenapa?
S: Karena kedua teman Aku tidak jadi berangkat, apakah masih bisa Aku minta kembali bagasi Aku?
P: Ya, tapi apakah kamu benar-benar ingin berangkat?
S: Aku sangat ingin, tapi apakah waktu 10 menit ini Aku masih bisa mengejar pesawat itu dengan posisi Aku masih dsini?
P: jika kamu memang benar-benar ingin berangkat, Aku akan hubungi pihak pesawat untuk menunggu. Tapi kamu harus berlari mulai dari sekarang.
S: Aku bingung pak, tapi bismillah ya Aku akan berlari kesana. Tolong bantu untuk menghubungi ya pak, terimakasih

Pada 10 menit terakhir check in akhirnya kami bertiga memutuskan “YA”, Aku harus berangkat. Entah apa ya membuat kami yakin hal itu dengan semua ketidakpastian yang ada, fikirku hanyalah Allah tidak akan membiarkan hambanya menderita, Ia hanya ingin melihat hambanya berusaha sampai titik penghabisan terlebih dahulu. Aku hanya mengatakan kepada mereka “Bismillah aku berangkat, dan aku percaya kalian pasti bisa nyusul, insyaallah kita ketemu di Eropa ya”. Karena kalau di logika aku juga tidak habis fikir bagaimana aku bisa yakin bahwa mereka bisa menyusul, tapi aku sangat percaya pasti ada pertolongan Allah dan pasti mereka bisa menemukan bagaimana caranya. Aku berpamitan kepada mereka dan hanya modal percaya dan yakin bahwa mereka bisa menyusul, kemudian aku berlari sebisaku.


Aku berlari dan terus berlari, sampai aku merasakan perut kanan ku kembali sakit karena berlari itu, dan seluruh petugas bandara tau bahwa aku adalah penumpang terakhir dan dengan mudahkan mereka membantuku melewati seluruh proses imigarasi dan seleksi lainnya. Aku hanya disuruh berlari segera sebelum pesawat take off. Singkat cerita, aku sampai didepan pintu pesawat dan disambut oleh pramugari cantik berhidung mancung, dan menyambutku dengan seyuman. Ia kemudian mengarahkan aku ketempat dudukku. Harusnya aku merasa sangat senang, karena bisa merasakan kemewahan pesawat Qatar airways, yang menurutku luar biasa. Namun hatiku tidak bisa melepaskan kesenangan itu karena masih terus menyisakan perasaan khawatirku. Bagaimana keadaan mereka berdua, apakah mereka bisa menyusul, bagaimana nasibku sesampainya di Jerman, karena kontak PPI hanya ada di Ida. Ya terlalu banyak kekhawatiran yang berlalu lintas di fikiranku, yang membuat perjalananku tidak begitu menyenangkan. 8 jam didalam pesawat mewah seperti itu memag tidak begitu terasa, dengan fasilitas tv, selimut, music, game, berita, makan dan minum yang tidak berhenti datang kepada seluruh penumpang, dan fasilitas wifi yang memungkinkan aku memberi kabar ke keluargaku. Saat itu bulan Ramadhan, sehingga aku bingung, bingung kapan waktu sahur dan imsak, karena perbedaan waktu yang membingungkan itu.

warsawa :)

24 Juni 2017 Pagi ini kami telah sampai di kota yang berbeda, yaa kami sampai di warsawa, ibukota Polandia. Kedatangan kami di jemput ...